OpenSource, Hasil Ato Proses ?
Jujur saya sering heran kalo mendenger orang ngaku sebagai orang opensource karena udah nginstall program opensource di komputernya. Soalnya, apa bener kalo kita dah nginstall program opensource trus kita dah jadi bagian dari gerakan opensource ?
Opensource tuh bukan soal memakai produk-produk opensource (cmiiw). Bagi saya gak ada bedanya antara orang yang memakai software propitery sama orang yang pake software opensource. Saya gak bilang kedua-duanya salah loh, tapi saya melihat keduanya seperti orang yang beli makanan. Buat orang yang mampu, bisa beli makanan yang lebih mahal yang memang sesuai selera dia, buat orang yang gak mampu mungkin pilihannya jadi lebih sedikit (dari segi harga) tapi enggak berarti semua yang murah gak enak dan gak sesai selera loh. Jadi gak ada bedanya, sama-sama berusaha memenuhi kebutuhannya, gak beda.
Nah kalo menurut saya opensource itu bukan pada level itu, tapi pada level komunitas yang ingin memenuhi kebutuhan bersama dengan cara saling menyumbang ide, pemikiran, dan tenaga untuk mewujudkan hal-hal yang jadi kebutuhan bersama. Mungkin gotong-royong masyarakat indonesia adalah bentuk awal dari opensource. Makanya kalo kita masih pada level nuntut dan cuma pake, kita bukan masyarakat opensource, tapi masyarakt konsumen biasa.
Bangsa kita yang (katanya) ingin menggalakkan opensource, mungkin harus me-redefinisikan lagi opensource dari kamus kita. Kita hanya berorientasi pada hasil, yaitu harus terbuka sourcenya dan harus gratis, padahal source yang sudah terbuka itu juga tidak pernah dibuka apalagi dikembangkan.
Opensource tuh soal proses, bagaimana sih kebutuhan kita bisa kita penuhin dengan saling bekerja sama, saling mendukung dan saling menguntungkan. Bagusnya lagi kalo saling bekerja sama tadi bisa mempercepat pemenuhan butuhan kita dan penemuan tehnik-tehnik baru yang mungkin bisa meningkatkan kesejahteraan bersama.
Jadi jangan sampe lagi ada menteri (yang katanya) informatika nanya opensource sudah memberikan apa
mudah-mudahan menteri yang baru bisa lebih mengerti… (amin)
September 11th, 2007 at 5:35 pm
Mas saya refer tulisannya ke site kampus saya, di stibanas.ac.id.
May 7th, 2008 at 1:14 pm
Kontribusi yang dapat kita berikan untuk komunitas open source itu seperti apa aja? Apa mesti bisa nyumbang program-program baru? Atau ada hal-hal kecil yang bisa dilakukan?
May 7th, 2008 at 2:03 pm
Menurut saya sih kita nggak hanya harus menyumbang sesuatu yg teknis saja, tapi bisa juga ide, namun yg terpenting adalah orang mengaku dirinya dari komunitas opensource harus benar-benar mengerti keunggulan dan kelemahan aplikasi/produk opensource yang ada sehingga kita bisa membuat aplikasi atau produk opensource yg bisa diterima di masyarakat. Ini terjadi di lingkungan saya. ada kelompok yg ingin menggalakan linux di sekolah-sekolah, namun mereka tidak mempersiapkan starategi/memperkirakan dampak yg akan dihadapi si pengguna opensource ini karena kebiasaannya dgn kemudahan yg diberikan komunitas closesource, dan akhir2nya mrk nggak bertanggung jawab terhadap kesulitan si pengguna opensource, dan bagi saya tulisan di atas adalah bermakna warning terhadap orang yang ingin mengaku mewakili komunitas opensource sebab bila mereka mengatasnamakan opensource hanya berbekal euforia, maka bisa-bisa pada akhirnya akan menenggelamkan opensource itu sendiri.)
May 7th, 2008 at 6:00 pm
@zuhair
Kalo menurut saya sih ikutan nulis kode baru sebagian dari opensource. Yang penting itu semangatnya, semangat untuk bersama-sama mencapai kesejahteraan. Yang disumbangin bisa nulis kode, ikutan testing, ikutan nulis dokumentasi, ikutan ngasih ide, tutorial dan menyebarkan ke orang-orang lain.
Jadi mirip sama gotong-royong kan ? Harusnya orang indonesia jadi pionir di opensource nih, kan gotong-royong udah di trademark sama orang indonesia
May 8th, 2008 at 12:15 pm
Hehehehe… saya setuju, sebab negara ini memang seharusnya menggunakan dan mengembangkan produk opensource, apalagi skrg daya beli masyarakat makin berkurang, yg perlu ditekankan adalah kita sebagai pendukung opensource tidak boleh merasa suprior dan tidak memikirkan kebutuhan orang awam, sehingga suatu opensource bisa menjadi solusi sebenarnya dari negara seperti kita.
Hehehehe…. memang gotong royong adalah trademark kita, tapi anggapan orang luar tentang kita adalah bahwa kita ini “pekerja kreatif” yg merupakan kata lain dari pekerja seni(dan ternyata sekarang makin banyak kontes adu bakat), dan yang memperparah adalah kita merupakan bangsa yg cenderung malas(contohnya ttg tata tertib secondary structure, yang banyak menyebabkan kematian, seperti jatuh dari lapangan parkir), yaaah tapi klo bagi saya sih ini manusiawi, dan saya beranggapan Allah memberikan cobaan yg mendesak kita ke limitasi agar bisa membangkitkan kemampuan sebenarnya dari bangsa ini. Sehingga suatu saat nanti mungkin saja kemudahan/kesulitan opensource tidak lagi menjadi polemik yg berarti, karena bisa jadi nantinya itu satu2nya solusi agar bangsa kita bisa bangkit:p
May 8th, 2008 at 1:26 pm
@Ark
Good point bro. Kalo sekarang mulai dari diri kita aja dulu. Mulai make, jelasin ke temen, kalo temen mo nyoba di bantu. Namanya juga komunitas, hidup kalo orang-orangnya banyak dan saling bantu
May 9th, 2008 at 2:15 pm
Mas denny kontribusi ke projek opensource dimana saja?
