The Denny Depok

The Denny Depok

Gosipin IT Bareng Mas Denny Depok Yuk…

The Denny Depok RSS Feed
 
 
 
 

Ribetnya System Integration

Baru beberapa menit lalu saya ngobrol-ngobrol dengan teman saya tentang ribetnya system integration diperusahaan dia. Memang sih perusahaan tempat dia bekerja berurusan dengan data yang disharing beberapa pihak (ngambil dari beberapa tempat dan memberi ke beberapa tempat). Kebayang gak sih, disaat perusahaan-perusahaan lain di indonesia baru ribut-ributin masalah mo milih desktopbased/web based ato windows/linux, perusahaan dia dah ngurusin gimana gabungin beberapa sistem yang bener-bener beda (karena emang yang bangun beda-beda) trus ditambah usia masing-masing sistem berbeda-beda banget ada sistem baru yang dilengkapin fitur canggih kaya web service/corba/EJB, tapi gak sedikit sistem yang lahir waktu jaman-jamannya cobol/fortran :D :D :D

Saya excited banget untuk ngobrolinnya secara emang dah lama saya tertarik dengan system integration. Mungkin awalnya sewaktu saya bekerja di vendor salah satu bank swasta dan bertugas untuk membangun sistem yang bekerja dengan berbagai system core banking di bank itu yang kebanyakan masih jalan di IBM AS400 dan komputer-komputer server/mainframe lain yang saya gak pernah lihat wujudnya tapi sering saya akses lewat layar warna ijo :D.

System integration mungkin gak bisa dihindari oleh kita. Saat ini banyak perusahaan sudah punya puluhan hingga ratusan aplikasi yang perlu untuk saling bekerja sama agar makin efektif. Apalagi saat ini di dunia IT sepertinya ada semacam kesepakatan bahwa perbedaan platform mungkin sudah bukan hal yang perlu diperdebatkan lagi. Sekarang semua orang bebas untuk membangun aplikasi di platform/bahasa/framework manapun karena sulit untuk menentukan yang mana yang lebih unggul daripada yang lain. Tapi permasalahnnya muncul kalau aplikasi-aplikasi tadi harus diintegrasikan, baik diintegrasikan antar aplikasi internal perusahaan bahkan dengan aplikasi dengan pihak luar. Ada perusahaan yang mengambil keputusan dengan menstandarisasikan bagaimana aplikasi dibangun (mulai dari bahasa, framework, platform, database sampe style pemrograman), tapi jujur bagi saya sih langkah itu seperti minum racun untuk ngilangin sakit sekarang, tapi ngebuat mati di kemudian hari. Gimana ya, tehnik pembangunan perangkat lunak kan berkembang dengan cepat juga. Kalo distandarin, mungkin setengah/satu tahun kemudian muncul tehnik baru yang lebih efektif dan efisien dan ngebuat yang distandarin jadi gak menarik lagi. Bahkan ada perusahaan yang demi keidealannya menjaga standar akhirnya kesulitan untuk mencari programmer yang bisa menangani standar yang udah mulai ditinggalin itu.

Trus bagaimana dong untuk menghadapi integrasi antar aplikasi diperusahaan yang jumlahnya puluhan (bahkan ratusan sampe ribuan) ? Sayang gak ada cara mudah untuk menjawab tantangan tadi. Cara standarisasi (yang diatas sudah saya tentang) mungkin bisa menjawab sedikit masalah di integrasi sistem, ya paling enggak disisi cara komunikasi, tapi masih belum menjawab banyak tantangan lain.

Kalo dari saya, mungkin yang paling utama adalah kemauan dari sisi manajemen. Yup, sekali lagi kemauan manajeman. Kenapa saya bilang gitu ? Karena sesuai dengan pengalaman saya, kalo kemauan manajemennya kuat, kalo perlu sampe terobsesi, semua tantangan integrasi sistem tuh gak ada apa-apanya. Karena biasanya rintangan terbesar tuh adalah kemalasan para staf untuk melakukan integrasi itu. Ya biasa lah, staf kan maunya kerja dengan irama yang itu-itu aja, kalo udah bisa jalan (walau ada anomali dikit) gak pa pa lah, dari pada harus berubah dan nambah kerjaan (saat itu). Makanya orang manajemennya gak boleh berpikiran yang sama. Harus punya visi yang jelas tentang keuntungan yang bakal diraih dari mengintegrasikan sistem tadi dan bagaimana merencanakan pengintegrasian tersebut.

Yang kedua adalah kebijakan manajemen untuk mendorong semua aplikasi baru didesain untuk mengakomodasi akan diintegrasi di suatu saat nanti. Mungkin sekarang enggak, tapi harus mikir nanti bakalan diintegrasiin dengan yang lain. Kebijakan ini mirip dengan standarisasi, tapi cuma dilevel desain, jadi gak terlalu mengekang developernya tapi ngasih dorongan kedeveloper agar jangan berpikiran sempit. Hal ini bisa ngurangin kepusingan dikemudian hari.

Dan terakhir yang paling penting adalah milih staf yang akan melakukan integrasi adalah staf yang tingkat komprominya tinggi. Kenapa saya bilang gini ? Karena kita semua tau lah gimana sih gayanya programmer, sebagian besar nganggep dirinya sebagai artis besar yang egonya tinggi banget. Padalah disaat integrasi programmer tadi harus menghadapi desain/tehnik dari berbagai developer yang berbeda-beda yang mungkin berlawanan dengan keidealan keartisannya dia. Makanya staff yang kompromistis, yang milih cari solusi daripada nyari konfrontasi diperluin banget (i’ve been there  and see how bad things happen :D :D :D).

He..he..he.. sorry deh kalo disini cuma cuap-cuap dikit tentang system integration, kalo mo diskusi panjang tentang system integration sampe turun ke tehnik bisa email ke saya ke denny[at]klorofil.org.

3 Responses to “Ribetnya System Integration”

  1. 1
    faizal:

    Pak, mau tanya…Kalau integrasi database kira-kira kesulitannya apa seperti integrasi sistem? Terimakasih atas tanggapannya

  2. 2
    Denny Lim:

    Kalaw menurut saya tuw … rumitnya “System Integration” ituw palink besar terjadi karena kurangnya hati2 dalam design …

    misal … ada yg pake Java campur .Net campur lagi … Delphi … trus pake database platform yg beda2 .. yg gak jelas maksudnya … kenapa harus pake yg beda2 …

    padahal dengan makin meningkat keragamannya platform yg dipakai .. sudah pasti .. ribet dan cost-nya gak murah.

    tapi untunk ada yg namanya XML dan web services … sehingga bisa saling bicara^^
    (lebih gampank dikit^^)

    mengenai yg dibawah ini :

    Ada perusahaan yang mengambil keputusan dengan menstandarisasikan bagaimana aplikasi dibangun (mulai dari bahasa, framework, platform, database sampe style pemrograman), tapi jujur bagi saya sih langkah itu seperti minum racun untuk ngilangin sakit sekarang, tapi ngebuat mati di kemudian hari.

    kalaw yg ini menurut saya yach … ini ada plus dan minusnya …

    plusnya … mantainable …(bagi perusahaan ituw sendiri) karena adanya keseragaman..

    (klo kesekolah pasti bingunk dunk .. semua siswa bajunya beda2 … ada yg merah, dan ada yg hijau … bahkan gak pake baju ;P)

    tapi dengan adanya putih abu2, putih biru … jadi gampank khan?

    mulai dari kurikulum yg dipakai .. semua seragam …

    dan kelebihannya masih banyak lagi …

    sekarank kekurangannya …
    1. Orang baru masuk … adaptasi lebih lama
    2. standard baru datank … revolusi … standard baru datank lagi … revolusi lagi … it’s IT !!! be up to date …
    3. wew … kayaknya banyak … :)

  3. 3
    Denny Depok:

    To mas Denny Lim,

    Maksud saya emang harus hati-hati dalam desainnya mas. Tapi sebelum hati-hati dalam desain, kemauan manajemennya harus kuat, soalnya kalo manajemen melempem, biasanya analis/desainer jadi males, trus akhirnya programmer lebih males lagi.

    Soal standar, saya gak terlalu komplain kok. Tapi biasanya setelah beberapa tahun, biasanya perusahaan keget ternyata standar yang dipake udah berubah beberapa kali dan aplikasi mereka dah tersebar di beberapa standar.

    Jadi yang paling penting buat saya :

    1. Manajemen yang kuat
    2. Desain yang open minded dan hati-hati
    3. Developer yang open minded juga (ya jangan terlalu arogan lah)

    Ada temen saya yang bilang bahasa pemrograman dan framework tuh kaya mobil, cuma alat untuk mencapai tujuan. Jadi asal kita dah pernah ngendarain mobil sebelumnya, kita bisa ganti-ganti merek mobil, walaupun mungkin awalnya perlu penyesuaian diri. Tapi yang penting sampe ketujuan kan, bukan pas diperjalanannya.

Leave a Reply