The Denny Depok

The Denny Depok

Gosipin IT Bareng Mas Denny Depok Yuk…

The Denny Depok RSS Feed
 
 
 
 

pureFLEX Jurnal - Day 1 (15 Agustus 2008)

Halo, ini hari pertama saya menulis jurnal tentang pureFLEX. Loh apaan tuh pureFLEX ? Begini, kan kamu-kamu dah tau tentang purefect desktop (kalo belum tau buka dulu ke http://www.klorofil.org). Nah sudah beberapa minggu ini saya sedikit gundah. Yang saya pikirin, teknologi web (HTML/CSS/AJAX) menurut saya sudah obsolete semua. Beban sejarahnya terlalu banyak sehingga untuk maju sulit sebab banyak yang berantem antara mozilla, microsoft, apple dan opera. Banyak sekali wishlist saya tentang teknologi web yang mungkin tidak akan terwujud dalam waktu dekat ini.

Karena keputus-asaan saya, saya jadi males untuk melanjutkan dan browsing sana-sini untuk mencari teknologi alternatif, dan akhir saya bertemu dengan teknologi yang sebenernya sudah lama ada : Adobe (dulunya macromedia) Flash. Sebenernya saya agak males untuk berpaling ke solusi yang dipegang satu perusahaan, apalagi baru berpindah ke perusahaan baru. Tapi setelah membaca sana-sini, saya menghargai usaha Adobe untuk meyakinkan user kalo solusi mereka free, berkualitas, sustainable dan layak untuk dipakai baik oleh perorangan maupun perusahaan.

Salah satu kekuatan flash adalah pertama sudah banyak sekali komputer yang sudah memiliki flash player, mulai dari Windows, MacOS, Linux sampai FreeBSD (lewat adaptasi player linux). Kelebihan lain adalah kemampuan engine grafik dan scripting yang sudah mature, mungkin yang memiliki performansi paling tinggi diantara teknologi sejenis (emang ada ya, oh iya ada silverlightnya microsoft :P). Bahkan setelah melihat tur flash 10 rc, saya melihat perkembangannya cukup drastis. Fasilitas yang dimiliki juga lengkap sampai kemampuan 3D, koneksi ke cross domain + socket dan akses file lokal.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengkonversi purefect desktop untuk berjalan diatas Flash, makanya saya kasih nama pureFLEX, purefect desktop using FLEX (FLEX ini SDK opensource untuk bangun Flash Movie) :D :D :D. Dan untuk memberi gambaran real time untuk proses perkembangan pembangunan pureFLEX, saya menulis jurnal supaya anda-anda semua mengerti sampai mendetil bagaimana proses pembangunan desktop revolusioner (maunya :D) yang open ini. Nanti saya setup supaya enak mengakses kodenya dan site contoh yang live tentang keadaan project ini. BTW, karena tanggung jawab sebagai karyawan di saltanera (http://www.saltanera.com), mungkin sebagian besar pembangunan pureFLEX akan saya lakukan hari jum’at, sabtu dan minggu. Trus kenapa saya tulis ini, soalnya perkiraan saya untuk beberapa bulan kedepan developer pureFLEX adalah saya sendiri :D BTW jangan ketawa ya kalo saya banyak nemuin kesalahan, soalnya bener-bener baru hari ini saya memrogram untuk Flash.

Untuk hari pertama ini saya berusaha untuk mengerti fasilitas-fasilitas yang ada di FLEX dan bagaimana memrogram menggunakan FLEX, btw saya mrogram pake FLEX SDK 3 (ini opensource), ActionScript 3 dan IDE FlashDevelop (ini juga opensource). Jujur pada awal saya gak tau apakah FLEX cocok untuk target konversi purefect desktop, makanya saya baca ratusan (ato malah ribuan) halaman dokumentasi dari Adobe. Untuk dokumentasi, dari segi jumlah saya acungin jempol, tapi dari segi kualitas agak males juga bacanya :D :D :D Ya mungkin Adobe mandang yang baca adalah desainer, bukan programmer. Ato malah saya curiga dokumentasi FLEX (yang notabene opensource) dipersulit agar orang make IDEnya mereka : Flash Builder :D Saya baca dokumen-dokumen adobe di lab thesis ITB dari jam 14.30 sampe 17.00. Dari sini, saya dapet gambaran sedikit tentang FLEX, dan yang paling penting, ada fasilitas RSL (Runtime Sharing Library), yaitu mecah-mecah file flash jadi beberapa dan suatu flash file mungkin meload flash file yang lain –> ini fungsi penting buat desktop yang gak tau bakalan menjalanin aplikasi klien apa aja….

Setelah itu saya melakukan hal-hal lain (gak usah disebutin disini ya) sampe saya mampir ke StarBuck BIP jam 18.15. Disitu saya mencoba memrogram pake FlashDevelop. Awalnya sih oke-oke aja, buat hello world 1 menit selesai :D. Tapi permasalah muncul waktu saya mau gunain RSL. Permasalah pertama, kita haru ngebuat komponen librarynya dulu (dalam bentuk swc), dan flash develop tidak mendukung fungsi buat project swc. Akhirnya browsing-browsing pake hostspot gratisan (thanks to melsa) nemu plug-in untuk buat swc pake flash develop. Coba install trus gak jalan :D :D :D, setelah buka source code plug in ternyata programmernya nge-peg folder sdk FLEX yang beda sama di komputer saya. Akhirnya saya ubah direktori FLEX sdk dan plug-in berjalan dengan baik.

Kemudian permasalahan selanjunya adalah mengembed RSL ke project lain, ternyata option compile FlashDevelop tidak mendukung RSL dengan baik :D :D :D coba sana-sini gak berhasil akhirnya saya pulang jam 20.15 (soalnya batre laptop sudah habis). Kesimpulan sementara saya, FLEX cukup berpotensi untuk target konversi purefect desktop, tapi saya mo compile pake batch file buatan sendiri aja :D jadi gini, nulis pake flash develop (soalnya ada syntax highlight dan intelisense) trus kompile pake command line yang saya taro di batch file.

Sampe dirumah jam 21.00, saya penasaran trus buka lagi notebook untuk nulis batch filenya. Setelah nyoba sana-sini dan dengan bantuan dokumentasi dari Adobe, akhirnya batch file selesai. Oh iya, saya ngebagi project jadi 3, pureFLEXBase yang berisi kelas-kelas dasar purefect desktop, pureFLEX berisi kelas-kelas sistem dekstop dan testApp yang berisi aplikasi purefect desktop contoh. batch file sekaligus mengekstrak library yang dibutuhin sekalian mengkopi file-file hasil kompilasi ke folder wwwroot apache saya.

Selesai soal kompilasi, saya bergerak untuk mencoba loading kelas secara dinamik. Jadi skenarionya begini, pureFLEX adalah program utama yang akan meload kelas-kelas yang ada di pureFLEXBase dengan tehnik RSL, yaitu mekanisme loading otomatis dilakuin Flash, soalnya kelas-kelas dasar tadi kan kita udah tau isinya apa aja, seperti kontrol-kontrol visual. Nah untuk aplikasi, kan desktop tidak tau kelasnya apa, makanya diloading secara dinamik. Tapi inget, aplikasi waktu compile akan checking ke pureFLEXBase, makanya saya harus mastiin tidak ada redudansi loading kelas ke klien. Setelah mempelajari dokumentasi Flex soal loading SWF yang pindah-pindah ke beberapa bab, saya berhasil loading kelas testApp secara dinamik, memungkinkan kelas yang diloading dikenali secara global dan menjalankan kelas tadi. Jam 12.00 selesai (soalnya sambil nonton Mr&Mrs Smith di RCTI :D). Sementara saya ngerasa sebagai penguasa FLEX (he..he..he.. newbie mo sombong dikit). Trus saya mulai nulis jurnal hari pertama ini.

Sampai tahap ini saya masih belum memastikan apakah FLEX bisa menjadi target konversi, soalnya masih ada satu isu lagi yang perlu di buktikan, yaitu soal serialisasi dan deserialisasi object klorofil (aka XMLAble). Soalnya untuk operasi ini melibatkan operasi XML (ini udah pasti ada di FLEX) dan loading beberap kelas secara dinamik. Soal XML gak masalah, tapi soal loading kelas masih jadi pemikiran saya, soalnya ini terpengaruh dengan bagaimana penyimpanan library kelas yang saya belum putusin. Saya fikir penyimpanan kelas secara flat model purefect desktop saat ini agak kurang baik, soalnya sulit untuk membuat library yang mudah dipertukarkan antar developer.

Tapi untu sementara cukup disini dulu, mungkin besok dilanjut lagi. Tapi mungkin agak sorean, soalnya saya mo ke jakarta :D

Untuk kode sementara ambil disini : pureflex

(jangan heran isinya masih gak jelas, namanya juga cuma testing doang…)

Untuk website test nanti dulu, soalnya saya masih bingung naro dimana..

2 Responses to “pureFLEX Jurnal - Day 1 (15 Agustus 2008)”

  1. 1
    sufehmi:

    Wah sungguh menyenangkan ya :) menemukan mainan baru (flash) + sesuatu yang bisa dibuat dengan mainan tersebut. Pure joy.

    Dan kalau ada tujuannya seperti ini, biasanya jadi akan lebih besar kemungkinannya untuk sukses.

    Ya, memang sepertinya Adobe melihat lebih ke arah desain dengan Flash. Padahal ada potensi cross-platform, dan Flash sendiri kini sudah cukup powerful. Kemarin ini kami mendapat proyek untuk develop cross-platform; (beberapa platform) mobile + desktop, setelah sebentar menimbang akhirnya kami putuskan untuk develop di platform Flash. It was a no-brainer decision.

    OK, kita tunggu cerita-cerita selanjutnya :)
    Semoga perjalanannya menyenangkan.

  2. 2
    Denny Depok:

    He..he..he.. makasih mas..

    Saya lihat emang flash yang sekarang cukup lumayan untuk jadi pilihan untuk develop cross-platform.

    Untuk selanjutnya emang harus ditunggu. Yang pasti, ini akan menjadi ide saya yang paling gila :D kalo bisa dibilang ini final fantasy-nya saya…

Leave a Reply