Mempertanyakan OpenSource Indonesia
Tadi siang saya ngobrol dengan seorang bapak yang memiliki sebuah perusahaan software (identitas saya sembunyikan, soalnya yang penting bukan bapaknya, tapi isi omongannya). Memang sih perusahaan software dia gak terlalu besar, tapi sudah establish, maksudnya dia sudah punya produk andalan dan memiliki pangsa pasar yang jelas. Jangan tanya soal teknologi terbaru kayak java, .NET ato AJAX, soalnya perusahaannya simply running OK.
Yang menarik perhatian saya adalah, tiba-tiba dia menanyakan soal detail project opensource saya, project klorofil. Tanpa ada pikiran buruk, saya menjelaskan tujuan-tujuan proyek klorofil. Saya berani bertaruh, pasti gak banyak yang tau kan tujuan project opensource klorofil
Yang mengagetkan, diakhir penjelasan saya, dia berkata kalau gerakan  opensource di indonesia tuh mirip gerakan komunis. Apa ? Ya bener, bapak itu bilang gerakan opensource di Indonesia  itu mirip gerakan komunis. Menurut dia, landasan gerakan opensource indonesia dimulai dari titik awal yang salah yaitu dimulai dari paradigma software gratis. Akhirnya semua kegiatan yang berhubungan dengan opensource di indonesia juga memiliki arah yang salah, misalnya gembar-gembor pemerintah goes opensource (yang intinya cuma make), perdebatan antara opensource dan non opensource yang mirip perdebatan agama sampe bagi-bagi CD software gratis tanpa punya landasan filosofi yang jelas.
Akhirnya (masih menurut bapak itu), yang ada adalah perlemahan perkembangan IT di indonesia, munculnya software house-software house picik yang mempreteli kode opensource dan menjual mahal ke clientnya tanpa kontribusi balik (bahkan memasang notice kalo diturunin dari project opensource — yang pasti dari luar negeri– aja enggak), Pengajuan-pengajuan anggaran implementasi opensource tanpa ada nilai tambah sedikitpun dan seminar-seminar opensource yang lebih mirip kuliah umum pemakaian software yang sebenernya gak jauh beda sama seminar yang diadain vendor software besar.
Saya cuma menjawab dengan senyum. Tapi pikiran saya langsung teringat satu tahun lalu saya pernah diundang oleh oleh salah satu pusat FOSS. Sebenarnya saya sangat semangat mendatangi undangan itu, apalagi saya diundang melalui telepon (kalo yang tau saya pasti ngerti kalo saya jarang banget ngumbar no telpon). Tapi semangat saya langsung down waktu saya ditanya tentang posisi tim saya. Saya waktu itu jawab (dengan sedikit bangga) kalo tim klorofil adalah tim developer. Perwakilan pusat FOSS itu memandang saya dengan bingung trus bilang : “Maaf mas, pusat FOSS ini tujuannya untuk penyebaran informasi penggunaan software open source, untuk developer kita belum ada mekanismenya”. Gantian saya yang bengong, pusat open source tapi gak ada developernya ??!!!
Saya gak mau ngerendahin arti komunitas pengguna software opensource. Bahkan saya merasa komunitas pengguna adalah salah satu bagian penting dari gerakan opensource. Tapi mungkin bapak itu benar, di indonesia kita memulai gerakan opensource kita dari titik yang salah. Kita memulai dari titik pikiran orang lapar, yaitu perlu yang gratis dan banyak.
Saya selalu berfikir, opensource tuh bukan masalah gratis atau gak gratis, bukan masalah milih yang legal dan gak legal. Tapi yang paling penting adalah memenuhi kebutuhan kita secara bergotong royong. Yang bisa ngoding ya ngoding, yang bisa testing ya testing, yang bisa nulis dokumentasi ya nulis dokumentasi dan walaupun bisanya cuma ngeritik ya ngritik. Karena dalam opensource itu adalah masalah kebutuhan yang akan dipenuhi, dan tukang-tukang kritik tadi adalah sumber informasi terbesar tentang hal apa yang akan dilakukan oleh sebuah project opensource selanjutnya.
Opensource dalam bayangan saya adalah soal proses. Proses saling sharing informasi, pengetahuan, pengalaman, kebutuhan, tujuan dan rencana sehingga komunitas yang terlibat dalam project tersebut semakin dewasa dalam pemahaman ber-komputasi. Akhirnya membentuk masyarakat sejahtera karena mengimplementasikan sistem terkomputerisasi yang efektif.
Yah tapi beginilah negara tercinta kita ini. Lembaga opensource resmi yang disponsori pemerintah malah lembaga bisnis opensource, bukan lembaga yang berisi developer-developer yang memang benar-benar nyangkul di area opensource. Yang saya protes bukan masalah developer gak pernah disponsori pemerintah (yang namanya developer opensource gak perlu sponsor, mereka melakukan untuk kebaikan mereka sendiri kok), tapi soal gembar-gembor penggunaan opensource yang isinya cuma gratis-gratis-gratis. remember stallman said opensource is not about free beer, its about free speech !
Maaf kalo menyinggung banyak pihak, soalnya saya sendiri merindukan banyaknya petani-petani diladang opensource, bukan cuma tukang-tukang dagang brand opensource…
September 23rd, 2008 at 4:01 am
setuju om denny,
di indo banyak yang jadi rampok, pake source code software open source, terus menjual dengan harga mahal, tanpa berkontribusi kepada sipembuat
lucunya hampir semua situs pemerintahan yang beli produk hasil pembajak tadi menggunakan software joomla, tanpa diubah sedikitpun, jadi aja, ladang untuk di”tanam” peretas
September 23rd, 2008 at 5:53 am
Masalahnya adalah orang Indonesia pengambil keputusan itu nggak punya Blueprint IT utk Indonesia utk 1-5-10 tahun kedepan, jadinya pemahamannya ngawur-ngawur. Kan sekarang semua pengertian orang akan IT itu beda-beda, ada yang mikirnya cuma software doang, ada yg cuma mikir OS doang, hardware doang, telekomunikasi doang, tanpa tahu keterkaitan antar semua bidang tadi, dan mana bidang2 yg esensial utk dikembangkan terlebih dahulu.
Sama spt artikel blog anda sebelumnya ttg univ yg mempermasalahkan beda IT dgn ICT, itu terjadi karena nggak ada Blueprint pengembangan IT. Yang terjadi adalah asal comot tanpa faham esensinya.
September 23rd, 2008 at 7:16 am
menarik, mas.
good point of view.
dulu saya berpikiran, seperti itu open source = gratis.
sekarang sih saya ibaratkan seperti minum obat aja. kita punya hak untuk tahu bahwa obat (software) yang kita minum (instal) di badan (komputer) kita itu berbahaya, ato malah baik.
betul begitu?
September 23rd, 2008 at 8:25 am
Gantian saya yang bengong, pusat open source tapi gak ada developernya ??!!!
.
Karena bingung bagaimana memformulasikannya. Saya kebetulan kenal banyak simpatisan open source di pemerintah. Mereka ingin sekali melihat open source ini sukses. Tapi, kendalanya luar biasa. Sangat besar.
.
Mulai dari salah kaprah tadi, open source dianggap gratisan. Usaha mereka untuk menangani ini satu saja sudah sangat serius lho.
Sampai Menristek menggandeng Hermawan Kertajaya, yang katanya pakar marketing itu, untuk meluruskan kekeliruan persepsi tsb.
.
Tapi memang sulit kalau banyak sekali pihak-pihak yang terus menyebarkan informasi yang keliru. Seperti bapak tadi itu, saya kira wajar jika dia sebenarnya anti open source, karena dianggapnya itu akan membunuh ladang pencariannya.
Ada kawan saya juga yang vendor proprietary, dan hanya dengan pendekatan yang baik dari kita saja maka sekarang dia mulai paham dan simpati dengan gerakan open source.
.
Gerakan open source adalah tentang keadilan.
.
Bagi yang tidak mampu, bisa mendapatkannya tanpa biaya. Bagi yang mampu, bisa menikmati layanan ekstra. Source code tersedia, sehingga pengguna tidak bisa disandera oleh vendor. Dan bagi vendor, open source adalah cara marketing yang sangat menarik.
Bagi developer sendiri, open source itu memuaskan jiwa, karena code kita jadi hidup terus — sampai sekarang masih ada terus orang yang menanyakan soal PangsitCMS. Padahal itu kode jadul
zaman PHP3, security holenya ada dimana-mana, dst. Namun ternyata, bagi beginner PHP, Pangsit CMS sangat membantu mereka untuk jadi paham mengenai PHP.
.
Siapa sangka code sejelek itu ternyata masih bisa berguna, he he.
Ternyata bisa. Karena open source.
.
Bayangkan kalau Pangsit CMS itu proprietary. Pasti sekarang sudah lenyap entah kemana code nya
.
Jadi mari kita bantu semua pihak yang berusaha mempromosikan open source. Termasuk kawan2 kita di pemerintah itu. Jangan malah kita jatuhkan. Kesian mereka, sudah berusaha membantu kita, ditentang banyak orang di pemerintah & swasta yang tidak suka (resikonya jabatan, dan otomatis, sumber nafkah anak istri mereka); lalu kemudian malah dicerca oleh orang-orang yang ingin mereka tolong.
.
Kalau kita bisa saling bekerjasama, maka insyaAllah gerakan FOSS bisa sukses di Indonesia.
.
Thanks.
September 23rd, 2008 at 8:31 am
Blueprint IT
karena terlalu mendetail, sehingga juga menjadi terlalu banyak bentrok dengan realita yang ada.
.
Hehehe.. jadi ingat, di institusi saya bekerja sebelumnya, pernah disuruh bergabung di tim yang membuat blueprint IT untuk institusi tersebut.
.
Maka kita bekerja keras dengan penuh semangat selama beberapa bulan.
Setelah selesai, lalu kita serahkan.
.
Ternyata saudara-saudara…. situasi sudah berubah terlalu banyak selama kita membuat itu. Sehingga dokumen blueprint tersebut jadi tidak relevan
.
Blueprint itu idealnya lebih bersifat strategis, dan ringkas saja. Kalau terlalu mendetail, namanya membuang-buang waktu.
.
Dan kalau di Indonesia, sepertinya cuma bisa membuat s/d 4 tahun. Kalau lebih dari itu, maka setelah pemilu berikutnya sudah mubazir. Mereka akan membuat blueprint lagi sendiri
September 23rd, 2008 at 9:20 am
Kayaknya yang kurang dari kita sebagai bangsa adalah filosofi dalam melakukan sesuatu.
Apa sih yang harusnya dilakukan dalam dunia IT indonesia ? Kalo menurut saya sih meningkatkan sumber daya manusia mulai dari developer sampe user agar bangsa kita bisa memanfaatkan IT sebesar-besarnya untuk kesejahteraan kita.
Bagaimana caranya ? banyak, dan opensource tuh cuma salah satu cara.
Tapi kalo kita memilih jalur open source sebagai salah satu solusi, kita juga harus memiliki filosofi dalam melakukan opensource tadi.
Apa sih tujuannya kita melakukan opensource ? Tujuannya berhimpit dengan tujuan IT keseluruhan, yaitu meningkatkan sumber daya manusia dari developer sampe ke end user supaya kita bisa mengeksploitasi IT.
Perlu diingat adalah proses, sekali lagi prosesnya. Bukan hasil akhirnya.
Gimana caranya ? kalo dari saya ya cara opensource, mulai dari kebutuhan. Kebutuhannya apa dan mulailah untuk menulis kode untuk memenuhi kebutuhan tadi. Kalo sudah ada project yang sesuai, bergabunglah untuk bisa belajar tentang apa yang sudah dicapai sehingga kita bisa lebih dewasa dalam berkomputasi. Tapi selanjutnya janga lupa untuk berkontribusi, untuk apa ? supaya kita bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang belum terpenuhi.
Jadi intinya apa… belajar dan berkontribusi ! Kenapa ? Karena semua software dan project opensource akan terus berubah bahkan mungkin akan mati karena menghadapi perubahan dunia IT.
Kalau kita cuma bergerak dalam penyebaran software, filosofinya apa ? Apa yang kita pelajari dari proses itu ? Apa persiapan kita menghadapi masa depan yang terus bergerak dinamik ? Terus apa posisi kita, apakah cuma sebagai user yang tidak tau apa-apa tentang software yang dipake walaupun software tadi dibrand sebagai opensource ?
September 23rd, 2008 at 9:35 am
Btw jangan tabrakin antara opensource dan closesource. Kenapa ? karena keduanya menurut saya adalah komplementer. Maksudnya keduanya saling melengkapi. Lagian dari saya gak pernah setuju kalo project opensource bergerak di solusi akhir seperti CRM dan ERP.
Kenapa ?
Karena opensource harusnya bergerak di solusi dasar yang diperluin oleh semua orang. Kalo solusi akhir, apalagi solusi tadi untuk keperluan bisnis yang menghasilkan pendapatan, kayaknya gak seharusnya diopenin. Ya kita nerapin prinsip kepatutan aja.
Beda ceritanya kalo emang suatu perusahaan perlu ERP trus buat sendiri trus openin untuk rekan-rekan bisnisnya.
September 23rd, 2008 at 9:42 am
“Dan kalau di Indonesia, sepertinya cuma bisa membuat s/d 4 tahun. Kalau lebih dari itu, maka setelah pemilu berikutnya sudah mubazir. Mereka akan membuat blueprint lagi sendiri”
Itu yang salah dari negeri kita, karena kita jadi negara Install ulang
Hobinya bikin baru blueprint. Akhirnya ketika orang mau move, dia nggak punya arah, akhirnya ngawur-ngawur. Sejelek2nya Pak Harto memerintah Indonesia jaman dulu, tapi dia punya Repelita, yang dia laksanakan sampai 30 tahun. Kalau kita nggak punya rencana, ya akhirnya cuma ikut2an tren aja.
Bener sih, musti ada yg mikir apa filosofi arah pengembangan IT itu, agar nggak ada orang baik yang terlihat ngawur karena nggak punya arah.
September 23rd, 2008 at 10:29 am
Jadi intinya apa… belajar dan berkontribusi !
Kebetulan lagi mau jalan jadi ringkas dulu - tidak semua orang mampu menjadi developer. Tapi ini tidak masalah juga di open source, ada banyak yang bisa kita kerjakan bersama-sama. Bisa ada yang bagian mencari “kutu”, membuat dokumentasi, membuat artikel / tutorial, dst.
Atau, “sekedar” memberitahukan dan mempromosikan kepada kawan-kawannya. Itupun sudah cukup membantu. Syukur2 sambil membimbing sampai kawan2nya tersebut juga jadi bisa menggunakan solusi open source tadi.
September 23rd, 2008 at 10:31 am
Btw jangan tabrakin antara opensource dan closesource
Akur. Setuju sekali. Tidak perlu ditabrakkan. Biarkan saja semuanya terjadi secara evolusi alamiah.
Bahkan di beberapa anggota AOSI (asosiasi open source indonesia) ada wacana Open Standards, jadi tidak melulu open source. Software boleh proprietary, yang penting semuanya berbicara dengan bahasa yang sama, yaitu open standards.
September 23rd, 2008 at 4:28 pm
Sepertinya saya developer yang salah menyikapi open source project. Karena cuma bisa download, oprek dan pakai untuk diri sendiri.
Setuju.
Adakah open source project hosting web site khusus Indonesia punya?
September 23rd, 2008 at 8:10 pm
dulu awalnya saya selalu bilang free beer tapi setelah baca sana sini dan juga di sini tentunya akhirnya saya berpikiran FOSS itu ya free speech, freedom… tapi sayangnya saya sendiri juga yg harus ngerubah mindset temen-2 yg kadung saya ‘racuni’ dari awal dengan free beer.
September 23rd, 2008 at 8:59 pm
hehe.. ingat lagunya s07.. kami adalah petani-petani kesepian..
gak mau komen serius ah.. udah terlalu serius diskusinya..
aneh ya? waktu kecil di SD diajarkan kalau di Indonesia itu terkenal gotong-royong dan tenggang rasa..
September 23rd, 2008 at 9:18 pm
@pebbie
Iya nih jadi terlalu serius
Pokoknya mudah-mudahan kita bisa menarik manfaat dari gerakan opensource sekarang. Saya harap sih bukan manfaat gratisnya aja, tapi manfaat bagi intelektualitas kita.
Caiyo selalu opensource indonesia..
September 24th, 2008 at 7:28 am
Memang benar, open source is not free software. Mungkin yang dibutuhkan di tanah air adalah “affordable software”. Bukan gratis, tapi murah.
Ungkapan si Bapak tsb menarik juga. Begini pertanyaan2 saya:
- Apa industri software lokal di Indonesia bisa berkembang maju dengan model open source (yaitu yg tulen open source, menghormati GPL dan intellectual property lainnya).
- Berapa jumlah coder di perushaan software Indonesia yg mendapat nafkah dari coding open source. Versus berapa yang hidup dari coding untuk platform propriatary.
- Berapa nilai eksport Indonesia keluar negeri berdasar open source software.
- Kalau memang yg dibutuhkan adalah “Affordable Software”, kenapa harus open source. Apa untungnya bagi pengguna kalau harus open source.
Salam kenal.
[TH]
September 24th, 2008 at 7:55 am
[...] Denny Depok menayangkan blog yang menarik sekali tentang Open Source di Indonesia. Membaca tulisan beliau yang cukup panjang [...]
September 24th, 2008 at 8:04 am
Apa industri software lokal di Indonesia bisa berkembang maju dengan model open source
Sangat bisa. Sudah ada beberapa contoh sukses. Di luar negeri sudah jauh lebih banyak lagi.
Malah barrier of entry nya menjadi jauh lebih rendah. Tidak berencana bisnis, tapi malah dapat bisnis
Contoh: ada yang berbagi code karena sekedar senang berbagi. Ternyata kemudian dia malah jadi dapat business dari situ.
Berapa jumlah coder di perushaan software Indonesia yg mendapat nafkah dari coding open source. Versus berapa yang hidup dari coding untuk platform propriatary.
Masih jauh lebih besar yang proprietary saya kira, karena mindset mayoritas kita masih kesini. Cukup jelas nampak juga di thread ini.
Kalau memang yg dibutuhkan adalah “Affordable Softwareâ€, kenapa harus open source. Apa untungnya bagi pengguna kalau harus open source.
Maaf tidak bisa me link langsung, jadi silahkan bisa lihat komentar saya sebelumnya tgl 23 Sep pukul 8:25 am
Bicara mengenai affordable software — masih ada yang ingat berapa rata-rata harga software sebelum Open Source mulai populer ?
Saya kebetulan langganan PC Magazine di awal tahun 90 an, jadi saya masih ingat betul. (hint: it’s bloody expensive)
Sekarang ? Applications bisa berharga cuma US$ 5, tapi developernya bisa tetap kaya raya.
Dengan open source semuanya bisa menang - pengguna (aplikasi murah, reliable, tidak terkunci vendor, dst), vendor (mass reach, massive feedback, etc), dst, dst.
Yah, kebetulan saya mengalami kedua masa tersebut (murni proprietary / dulu - dan sekarang), jadi saya merasakan betul perbedaannya.
September 24th, 2008 at 10:40 am
salah satu yang saya ingat waktu ngobrol dengan Niibe Yutaka tentang perangkat lunak open-source adalah bahwa perangkat lunak open-source (PLOS) mengubah pandangan bahwa perangkat lunak merupakan sekedar komoditi sehingga dengan adanya PLOS justru akan meningkatkan apresiasi terhadap developer.
PLOS yang dikembangkan adalah perangkat lunak yang fungsinya generik sehingga dapat diterapkan di berbagai tempat sedangkan bisnis yang terjadi adalah pengadopsian (kustomisasi) PLOS sesuai kebutuhan organisasi.
dengan begini semua untung. developer dapurnya tetap ngebul dan kemampuannya dihargai dan lebih independen, masyarakat/organisasi bisa tenang karena sistem yang diadopsi tetap ada yang merawat dengan harga produk = 0.
kalaupun ada sistem yang proprietary juga tidak masalah dan tetap hidup karena proprietary dan opensource bukan sesuatu yang sebanding dengan benar-salah melainkan pilihan hidup. Masing-masing model bisnis bisa tetap hidup beriringan tanpa bertubrukan.
see, isn’t it a beautiful world?
September 24th, 2008 at 4:47 pm
Kebetulan saya terlibat dari awal sosialisasi Open Source di indoensia, dikatakan “kegratisan” sebagai landasan awal di Indonesia adalah kurang tepat (itu malah fase berikutnya, karena di fase awal sosialisasi program bajakan gratis masih mudah diperoleh dan ndak dikejar-kejar).
Sebagai gambaran saat itu essay saya yg relatif tersebar luas adalah :
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/artikel/Abad21/
Yang kuncinya mencari “platform” pembelajaran yg mendorong terciptanya developer developer lokal. Karena melihat sejarah masukknya platform yang digunakan sebagai media pembelajaran di Indonesia kurang mendorong berkembangnya semangat sebagai developer (lebih pada semangat sebagai end-user)
Dalam road show bermodal sendiri th 1999-an issue yang saya angkat adalah kemandirian pengembangan sistem.
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/artikel/Desentralisasi/
Tentus aja essay tersebut ditulis dalam th 1999-an he he he dan harap dilihat dengan kondisi pada tahun segitu
Hanya pada perkembangannya ketika setelah masa “reformasi” dan krisis ekonomi, banyak persh konsultan tertarik dengan Open Soruce karena bisa menyelamatkan dari faktor ekonomis (proyek Intranet/Internet sudah terlanjur ditanda-tangani, tapi harga USD utk beli software lisensi jadi tinggi).
Faktor ini menyebabkan kecenderungan orang menjadi lebih pada efek “gratis” dari OpeN Source ketimbang efek mengembangkan kemampuan developer local. Tentu saja itu no problem, karena semua itu ada “fasenya” (industri TI kita tidak pernah mengalami era seperti di USA atau Eropa, era-era computer club, atau communitas developer, jadi sekarang kita baru pada fase pembentukan semangat itu he he he)
Untuk itu menurut saya kalau kita lihat di fase pengadopsian pemerintah sepertinya mengikuti tebakan saya
http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/?id=5
Jadi saat ini kita baru pada fase 1-2 saja belum sampai ke 3-4. Wajar-wajar saja sih… selama arah itu tetap kita pegang.
Justru itu saya sengaja gelar WOSOC [http://www.wosoc-conference.org] agar bisa terjadi pertukaran “idea” antara yang hanya menggunakan, melakukan capacity building dengan Open Source, dan yang mengembangkan Open Source” Karena semua fase itu sama pentingnya dan tidak bisa kita anggap mana yang lebih penting.
Istilahnya jalan masih panjang, dan itu adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui.
September 25th, 2008 at 6:02 am
[...] Mempertanyakan OpenSource Indonesia Part 2 September 25th, 2008 | Category: gosip, open source, programming [...]