The Denny Depok

The Denny Depok

Gosipin IT Bareng Mas Denny Depok Yuk…

The Denny Depok RSS Feed
 
 
 
 

Mempertanyakan OpenSource Indonesia Part 2

(Awalnya tulisan ini ingin saya post sebagai jawaban bagi post saya yang sebelumnya, tapi karena terlalu panjang dan supaya audiencenya lebih besar maka saya post sebagai post blog saya)

He..he..he.. ditinggalin satu hari kok kesannya jadi saya yang anti opensource ya… :D

OK deh, pertama kita tinggalin peran pemerintah dulu dalam opensource (tinggalkan kebiasaan kita selalu mengandalkan dan menyalahkan pemerintah dalam segala bidang)

Saya pendukung opensource, saya pengguna opensource, saya salah satu orang yang sering menyarankan penggunaan software opensource dan saya pelaku opensource.

Tapi saat saya hanya mempergunakan dan hanya menyarankan penggunaan software opensource, saya tidak pernah bilang saya orang opensource. Kenapa ? Karena dalam melakukan hal diatas, saya berperan hanya sebagai end-user yang memakai suatu software yang kebetulan kodenya tersedia (ini yang utama) sehingga otomatis harganya gratis (ini implikasi dari keterbukaan kode tersebut). Sama halnya seperti saat saya memakai program shareware kemudian saya menyarankan shareware tadi ke teman saya. Tidak ada hal filosofis dalam kegiatan ini dan saya tidak pernah berfikir tentang proses yang dijalani dalam pembangunan software tadi.

Saat saya menulis kode program, kemudian saya membuka kode program tadi, mendiskusikan dengan teman-teman dan menyebarkan keorang lain, ada hal-hal filosofis dalam melakukan hal diatas. Baru saya memposisikan diri sebagai orang opensource. Ada alasan-alasan khusus yang melatar belakangin perbuatan diatas. Dan percayalah soal masalah software legal/gak legal dan gratis/gak gratis itu cuma sedikit implikasi, sedikit akibat dari banyak kegiatan dalam opensource.

Saya berharap, individu-individu yang mengaku terlibat dalam gerakan opensource di indonesia memahami ini. Bahwa ada filosofi besar yang melatar belakangin gerakan kita, bukan sekedar mengagung-agungkan hal-hal yang sebenarnya cuma hasil implikasi kecil dari filosofi besar tadi. Saya mengajukan bahan ini supaya kita yang terlibat dalam gerakan opensource indonesia bisa memahami filosofi-filosofi opensource secara benar dan bisa semakin dewasa dalam berfikir dan bertindak secara IT.

Ada cita-cita besar yang ingin dicapai, dan opensource adalah jalan yang kita pilih dari sekian banyak jalan lain yang bisa dipilih. Apakah opensource adalah jalan yang terbaik ? Mungkin bagi kita, kita yakin opensource jalan terbaik untuk mencapai cita-cita tersebut. Tapi mungkin bagi orang lain tidak. Ini adalah sebuah pilihan. Saat kita memilih dan meminta orang lain untuk mengerti pilihan kita, maka saat itu juga kita wajib menghormati dan memahami pilihan orang lain. 

Saya mengerti, tidak semua orang bisa telibat dalam kegiatan opensource sesungguhnya (lihat yang saya bold, berarti kegiatan yang berhubungan dengan itu), dan mungkin sebagian besar dari kita cuma bisa memakai (seperti saya yang cuma bisa memakai puluhan software opensource) dan menyebarkan pemakaiannya. Tapi setidak-tidaknya kita coba mengerti tujuan dari pembuatan software tadi, sukur-sukur bisa memahami filosofinya kemudian ikut berkontribusi. Jangan cuma take it for granted.

Saya mengerti bangsa kita tertinggal dalam bidang opensource, kemudian kita lebih memilih langsung loncat ke masalah penyebarannya. Tapi mudah-mudahan loncatan kita tadi tidak memuat kita lupa bahwa ada hal-hal yang kita loncati sebenarnya adalah hal yang utama dalam opensource dan yang kita lakukan cuma implikasi kecil dari kegiatan tadi. Tidak perlu berusaha merubah seluruh masyarakat menjadi masyarakat opensource, karena yang perlu tahu opensource adalah kita orang IT. Sebaiknya kita sadar bagi masyarakat yang penting adalah tersedianya produk-produk IT yang diharapkan bisa meningkatkan taraf hidup mereka, kalau produk-produk IT tersebut tersedia gratis ya syukur, tapi kalau harus dibeli, sepertinya semua orang yang waras bisa memaklumi adalah hal yang wajar kalau dia membayar sesuatu yang dapat meningkatkan taraf hidupnya , tentunya dengan harga yang wajar dan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Dan saya mohon, mulai dari sekarang kita stop perdebatan kita soal opensource dan non opensource, apalagi buat orang-orang yang tidak begitu memahami filosofi-filosofi dibalik kegiatan opensource. Jangan jadikan opensource sebagai agama kedua yang tidak bisa dipertanyakan orang lain dan menjadikan kita militan-militan opensource. Jangan jadikan opensource sebagai brand kita kalau tindakan yang kita lakukan ternyata tidak berhubungan sama sekali dengan tujuan dan filosofi opensource.

Kemudian untuk pemerintah. Saya rasa sangat aneh kalau opensource minta dijadikan program andalan pemerintah. Karena bagi saya pemerintah seharusnya berdiri diatas semua golongan masyarakat IT. Tujuan pemerintah dalam IT tidak berhimpitan dengan tujuan opensource, walaupun mungkin sebagian besar (mudah-mudahan) sama. Pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator, dan tentu saja fasilitator bagi semua pihak, baik opensource maupun non opensource. Jadi gak perlu lagi teriak-teriak memaksa soal pemerintah harus mendukung opensource. Kalau pemerintah mendukung opensource, itu lebih baik lagi. Tapi dukungan itu tidak akan datang dan tidak ada artinya kalau tanpa pengertian yang benar tentang opensource di orang-orang yang ditugasi pemerintah untuk memfasilitasi opensource. Dan ini berarti tugas kita untuk menyampaikan informasi-informasi yang benar tentang opensource ke orang-orang tadi. (:D padahal saya juga gak pernah, gak tau ngomong kesiapa sih)

Semoga sedikit pemikiran saya ini bisa membuka sedikit pemahaman anda tentang opensource yang sebenarnya. Dan apapun jalan yang anda pilih dalam dunia IT (minumnya xxx - he..he..he.. biar gak terlalu serius :p ), saya yakin tujuannya untuk menciptakan dunia IT yang lebih baik dan mudah-mudahan bisa meningkatkan taraf hidup kita semua.

17 Responses to “Mempertanyakan OpenSource Indonesia Part 2”

  1. 1
    daus:

    Terima kasih atas tulisan anda yang begitu dalam dan begitu tajam

    Sudah banyak orang-orang macam anda selama bertahun-tahun tetapi itu tidak akan memadamkan semangat temen2 aktivis FOSS untuk terus belajar dan berkarya serta bermimpi

    Salam

  2. 2
    Denny Depok:

    @daus

    Aneh banget sih, berarti anda gak tau siapa saya dan kenapa saya nulis tulisan diatas. Pleas go digging this blog and go digging http://www.klorofil.org

  3. 3
    daus:

    memang benar saya ngga tahu siapa anda
    siapa sih anda ?

    Saya kira tidak perlu membangga-banggakan diri sendiri, komunitas juga tahu siapa yg punya kontribusi yg baik dan mana yang tidak :D

    Coba di pikir-pikir ada kebaikan apa anda menulis artikel diatas ?

    Supaya orang ngga tersesat memakai FOSS gitu?

    Saya lihat tulisan anda menjudge bahwa banyak orang tidak mengerti mengenai FOSS dan menjadi tersesat karenanya. Kesimpulannya adalah FOSS adalah wasting time begitu.

    Seperti yang pak IMW bilang FOSS adalah sarana belajar agar lahir developer2 handal disini bukan hanya promosi barang gratisan tapi jelek.

    Seperti yang anda bilang apapun toolsnya yang penting adalah bagaimana tools itu bs menyelesaikan pekerjaan kita.

    Bagi anda mungkin FOSS tidak membantu menyelesaikan pekerjaan anda tetapi mungkin banyak saudara-saudara kita yang sudah bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan menggunakan FOSS.

    Kalau memang menurut anda FOSS itu jelek ya tidak apa2
    perjalanan masih panjang seperti perjalanan bangsa ini

    Salam

  4. 4
    daus:

    Hehehe Tambahan

    Soal Bermimpi, Harapannya adalah muncul Developer2 handal seperti mdamt(hacker Maemo) dan Ariya Hidayat (Hacker KDE) yang berawal dari belajar FOSS.

    Jangan anda padamkan semangat temen2 yang ingin mengikuti jejak mereka.

    Salam

  5. 5
    Denny Depok:

    Anda salah besar, karena saya sendiri adalah developer opensource.

    Bagus anda bilang developer, karena inti di opensource adalah developer. makanya ada kata-kata source kan di situ ? Dan gak ada kata-kata marketing kan ?

    Saya gak pernah bilang opensource wasting time, malah saya melihat opensource sebagai salah satu solusi pengembangan software yang cepat dan terpercaya untuk memenuhi kebutuhan yang ada secara tepat karena ada proses pembagian pengetahuan dan pengalaman disana.

    Tapi please deh, jangan berhenti cuma di marketing-nya aja. Kalo marketing software baik yang open maupun yang gak open ya sama aja, gak nambah ilmu yang masarin.

    Jangan bilang sebagai komunitas opensource kalo source aja gak pernah dilihat. Jangan bilang komunitas opensource kalo license opensourcenya gak dibaca, dan jangan bilang komunitas opensource kalo komunitas itu ternyata melanggar license software-nya seperti beberapa license yang mensyaratkan pendistribusi software opensource wajib menyediakan sarana bagi orang yang ingin mengakses source code software tadi.

    Beda kalo misalnya ngaku sebagai komunitas pemakai software opensource. Dan ini akhirnya sama aja dengan komunitas-komunitas pemakai software lain baik yang open dan yang non open.

  6. 6
    Denny Depok:

    @daus

    Kasian banget kalo anda bilang 2 orang diatas dibilang hacker. Karena mereka developer. Dan opensource bukan masalah ngehack, tapi masalah ngedevelop.

  7. 7
    Affan:

    Jadi inget kalau bikin artikel2 spt ini http://affanzbasalamah.wordpress.com/2007/02/18/rants-on-linux-movements-in-indonesia/ siap2 menuai banyak komentar :) Nice article, I hope we share the same idea…

  8. 8
    pebbie:

    wahahaha… klorofil/purefect kurang terkenal dibanding KDE/Qt atau Maemo.. jadinya nggak diaku sebagai opensource.. hebat kali yang mengaku dari komunitas FOSS sampai punya kewenangan membuat sertifikasi siapa yang FOSS dan anti-FOSS (~murtad?)..ckckck

    mas denny nggak diaku.. wakakak.. tulisannya langsung terbukti.. dilema ‘opensource’ di Indonesia.

  9. 9
    tes:

    A

  10. 10
    IMW:

    Sayang sekali dalam artikel part 2 ini malah banyak hal yg “kontradiksi”. Seperti yang saya ungkapkan dalam komentar saya, untuk mencapai suatu “sharing culture ala Open Source” kita akan melewati fase-fase tertentu (untuk meloncat jelas tidak mungkin yang ada malah terjebak ke fokus penggunaan barang gratis dan legal saja).

    Seperti dalam artikel saya di INFOKOMPUTER (Seingat saya), menanggapi masalah solusi murah dan legal, jawaban saya pertimbangan itu saja tidak cukup (Be Legal is not enough), tetapi harus dilihat mana yang meng-”enable” kemungkinan pengembangan.

    Mengapa memperbedabatkan open source vs closed source menjadi penting, karena justru itu yang akan sebagai titik tolak bahwa pertimbangan kita tidak berhenti hanya pada gratis dan non gratis atau illegal atau legal saja, tetapi akan lebih kepada pertimbangkan mana yang meng-enable (membuka kesempatan) pengembangan lebih jauh.

    Membuka kesempatan bukan berarti langsung tercipta suasana tersebut. Seperti yg diungkapkan Gary Nutt (pengarang buku Kernel Project, keputusannya meninggalkan Windows sebagai platform pengajaran karena keterbatasan untuk meng-enable mahasiswanya belajar lebih dalam lagi.

    Saya setuju, kalau dikatakan saat ini memang banyak pihak pihak yg menggunakan label Open Source untuk sarana dagang, atau “issue” melakukan pendekatan bisnis ataupun kelompok. Yang seperti ini memang harus di”jewer” ke ke ke ke

    Tetapi dalam kaitan “model” secara global misal Open Source sebagai development model ini, maka kita tidak bisa mengelompokkan bahwa mereka yang kontribusi hanyalah mereka yang coding software open source. Atau mereka yang do-something hanyalah mereka yang menulis program Open Source. Sama halnya dengan proses software development, mereka yang melakukan analisis ethnografi tanpa menulis 1 coding pun (misal B. Nardi) tidak bisa kita sebut bukan developer. Kontribusi mereka tetap ada.

    Sebetulnya saat ini banyak koq orang yg develop aplikasi Open Source (bukan cuma Ariya, Mdamt, atau Deny Purefect), misal Owo, FT, terus yang membuat BAIK, Anton (playsms). Ketika saya melakukan survey kecil-kecilan 2003-an, ada banyak persh yang sudah merelease aplikasi mereka secara open source. he he he.

    Justru itu salah satu tujuan WOSOC adalah membuat developer Open Source Indonesia muncul ke permukaan. Karena sulit sekali bagi mereka untuk tampil ke permukaan, Tanpa mereka bisa tampil ke permukaan bagaimana bisa menarik kelompok developer atau membuat komunitas developer yang dibutuhkan dalam pengembangan open source.

    Hayo siapa mau bergabung jadi presenter project di WOSOC, slot untuk presentasi masih ada…. Silahkan kontak saya.

  11. 11
    Denny Depok:

    He..he..he.. dimarahin sama bapak opensource indonesia nih..

    Setuju pak Made, point saya dalam 2 post saya adalah kita jangan terjebak hanya dalam pemakaian software gratis yang legal. Kalau istilah bapak harus bisa meng-enable, maka istilah saya adalah harus bisa mendewasakan diri kita dalam ber-IT. Saya saya melihat tren kita hanya sebagai user software gratis yang legal sangat kuat.

    Saya gak pernah bilang hanya yang nulis kode yang termasuk opensource, tapi semua yang kontribusi. Seperti yang saya bilang kemarin, kritik aja bisa jadi kontribusi, apalagi nulis dokumen, ngajuin algoritma baru dan nulis kode.

    Kalo soal closed source, ya mungkin kita sedikit berbeda. Karena bagi saya semua pilihan yang harus dihargai. Termasuk menghargai opensource dan non opensource.

  12. 12
    IMW:

    Lho koq dimarahin, saya malah seneng ada tulisan seperti ini, sebab ketika suatu “gerakan” menjadi makin tua dan besar, biasanya banyak “penumpang-penumpang yang mau enaknya sendiri”. Jadi perlu ada pemikiran-pemikiran yang menjaga nafas awal.

    Soal open source vs closed source, saya menganut aliran seperti pemerintah Eropa atau mungkin USA, suatu dana yang diberikan oleh publik, maka harus dikembalikan sebesar-besarnya kepada publik. Ini yang membedakan antara penggunaan software utk pemerintah dan di dunia bisnis. Untuk itulah argumentasi Open vs closed di penggunaan secara luas di pemerintah masih sangat dibutuhkan (kalau penggunaan khusus, dan sedikit mungkin lain lagi).

    Oleh karena itu sangat tidak lucu kalau proyek pemerintah mendanai pengembangan software, dan hasilnya tidak diberikan secara bebas kepada publik. Sebagai contoh proyek penelitian dana pemerintah :-) proyek pengembangan perangkat lunak dana pemerintah (di badan pemerintahan), dsb.. dsb (justru itu salah stau “milestone” dari roadmap yang sempat saya cetuskan, setelah terbentuknya POSS di kampus, adalah terbentuknya repository aplikasi Open Source yg dikembangkan dg dana pemerintah tersebut.

    Faktor pengembalian kepada publik, akan lebih besar nilainya kalau infrastruktur yang digunakan sebagai pengembangan software tersebut juga bersifat pembebasan pengembalian kepada publik.

    Nah sebelum kita bisa sampai fase itu, kita memasuki fase mendapatkan keyakinan dulu orang untuk melakukan hal itu. Trend saat ini kita masih kuat sbagai “pengguna softaware gratis yang legal” barulah fase awal sebelum kita mendapatkan “user based” yang memungkinkan misal memodali pengembang lokal yang hasilnya di open sourcekan.

    “Seandainya” level keinginan sudah sampai ke arah sana, maka tidak tertutup kemungkinan pendanaan bagi developer open source utk membuat software dan hasilnya di open sourcekan, tanpa si developer itu perlu memikirkan “periuk nasi”.

    Jelas jalan masih panjang, karena secara histori, dunia komputer di Indonesia itu tidak diwarnai dengan “sharing culture” karena diawali dgn pusat-pusat komputer di kampus yg sangat ekslusif :-(

  13. 13
    dani:

    saya cuman pengguna..tulisan berserinya apik..
    sbg pengguna saya berharap para pengembang opensource indonesia makin muncul tanpa mengecilkan peran non-developer sesuai fase yg ada saat ini :)

  14. 14
    adit:

    well, kedua tulisan mas Denny sangat mencerahkan

    sy pribadi adalah end-user produk open source, sebelum ada tulisan ini sy bangga telah menggunakan produk open source untuk keperluan “komersial”

    tapi setelah membaca tulisan ini sedikitnya menjadi lebih malu (karena lum punya kontribusi) dan jd tahu filosofi yg melatar belakangi open source

    thank’s anyway

  15. 15
    R. Iqbal:

    :) Artikel Pak Denny makin kontroversial dan makin seru saja. Hehehe. Saya akui, kita butuh posting yang berisi “pukulan-pukulan” seperti ini untuk menjaga nafas awal (meminjam istilah Pak IMW)

    Pak IMW: “… sebab ketika suatu “gerakan” menjadi makin tua dan besar, biasanya banyak “penumpang-penumpang yang mau enaknya sendiri”. Jadi perlu ada pemikiran-pemikiran yang menjaga nafas awal.”

    Btw, saya yakin kok Pak Denny bukanlah orang yang anti open source apalagi anti kepada MDAMT dan IMW :D (FYI, di awal-awal development Klorofil, kami juga mendapatkan masukan berharga dari MDAMT dan IMW)

    @Denny: Ditunggu artikel-artikel kontroversial lainnya. Hehehe

    @IMW: Membaca komentar Bapak memang menarik. Benar-benar berkualitas. Ditunggu komentar-komentar Bapak berikutnya :)

  16. 16
    R. Iqbal:

    Pak Denny, sudah lihat foto Pak Romi saat di TN? (http://romisatriawahono.net/2008/09/22/evolusi-perdjoeanganku/)

    Jadi ingat foto Pak Denny pas di TN :)

  17. 17
    Dwi Prash:

    Saya developer under .NET, jarang menggunakan software opensource hanya beberapa framework opensource dari apache yang saya gunakan karena memang lebih powerful.

    Hanya mengomentari saudara daus, ini orang dari FOSS yah? project yang dibiayai pemerintah itu?
    jadi harapan dari project FOSS itu menelurkan hacker apa developer?

    Sangat disayangkan sekali resources yang dibiayai pemerintah ini orientasinya bukan untuk problem solving kebutuhan software UKM di indonesia, malah bermimpi menjadi hacker. Atau anda sendiri belum memahami perbedaan hacker dan developer? baru tahu resources yang dibayar pemerintah sedangkal ini (sedih mode: ON)

Leave a Reply