<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Mempertanyakan OpenSource Indonesia Part 2</title>
	<atom:link href="http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/</link>
	<description>Gosipin IT Bareng Mas Denny Depok Yuk...</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 01:36:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: R. Iqbal</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5719</link>
		<dc:creator>R. Iqbal</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 16:34:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5719</guid>
		<description>Pak Denny, sudah lihat foto Pak Romi saat di TN? (http://romisatriawahono.net/2008/09/22/evolusi-perdjoeanganku/)

Jadi ingat foto Pak Denny pas di TN :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Denny, sudah lihat foto Pak Romi saat di TN? (http://romisatriawahono.net/2008/09/22/evolusi-perdjoeanganku/)</p>
<p>Jadi ingat foto Pak Denny pas di TN <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: R. Iqbal</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5718</link>
		<dc:creator>R. Iqbal</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 16:28:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5718</guid>
		<description>:) Artikel Pak Denny makin kontroversial dan makin seru saja. Hehehe. Saya akui, kita butuh posting yang berisi "pukulan-pukulan" seperti ini untuk menjaga nafas awal (meminjam istilah Pak IMW)

Pak IMW: "... sebab ketika suatu â€œgerakanâ€ menjadi makin tua dan besar, biasanya banyak â€œpenumpang-penumpang yang mau enaknya sendiriâ€. Jadi perlu ada pemikiran-pemikiran yang menjaga nafas awal."

Btw, saya yakin kok Pak Denny bukanlah orang yang anti open source apalagi anti kepada MDAMT dan IMW :D (FYI, di awal-awal development Klorofil, kami juga mendapatkan masukan berharga dari MDAMT dan IMW)

@Denny: Ditunggu artikel-artikel kontroversial lainnya. Hehehe

@IMW: Membaca komentar Bapak memang menarik. Benar-benar berkualitas. Ditunggu komentar-komentar Bapak berikutnya :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p> <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Artikel Pak Denny makin kontroversial dan makin seru saja. Hehehe. Saya akui, kita butuh posting yang berisi &#8220;pukulan-pukulan&#8221; seperti ini untuk menjaga nafas awal (meminjam istilah Pak IMW)</p>
<p>Pak IMW: &#8220;&#8230; sebab ketika suatu â€œgerakanâ€ menjadi makin tua dan besar, biasanya banyak â€œpenumpang-penumpang yang mau enaknya sendiriâ€. Jadi perlu ada pemikiran-pemikiran yang menjaga nafas awal.&#8221;</p>
<p>Btw, saya yakin kok Pak Denny bukanlah orang yang anti open source apalagi anti kepada MDAMT dan IMW <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> (FYI, di awal-awal development Klorofil, kami juga mendapatkan masukan berharga dari MDAMT dan IMW)</p>
<p>@Denny: Ditunggu artikel-artikel kontroversial lainnya. Hehehe</p>
<p>@IMW: Membaca komentar Bapak memang menarik. Benar-benar berkualitas. Ditunggu komentar-komentar Bapak berikutnya <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: adit</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5709</link>
		<dc:creator>adit</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 01:05:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5709</guid>
		<description>well, kedua tulisan mas Denny sangat mencerahkan

sy pribadi adalah end-user produk open source, sebelum ada tulisan ini sy bangga telah menggunakan produk open source untuk keperluan "komersial" 

tapi setelah membaca tulisan ini sedikitnya menjadi lebih malu (karena lum punya kontribusi) dan jd tahu filosofi yg melatar belakangi open source 

thank's anyway</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>well, kedua tulisan mas Denny sangat mencerahkan</p>
<p>sy pribadi adalah end-user produk open source, sebelum ada tulisan ini sy bangga telah menggunakan produk open source untuk keperluan &#8220;komersial&#8221; </p>
<p>tapi setelah membaca tulisan ini sedikitnya menjadi lebih malu (karena lum punya kontribusi) dan jd tahu filosofi yg melatar belakangi open source </p>
<p>thank&#8217;s anyway</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dani</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5706</link>
		<dc:creator>dani</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 05:45:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5706</guid>
		<description>saya cuman pengguna..tulisan berserinya apik..
sbg pengguna saya berharap para pengembang opensource indonesia makin muncul tanpa mengecilkan peran non-developer sesuai fase yg ada saat ini :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya cuman pengguna..tulisan berserinya apik..<br />
sbg pengguna saya berharap para pengembang opensource indonesia makin muncul tanpa mengecilkan peran non-developer sesuai fase yg ada saat ini <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: IMW</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5687</link>
		<dc:creator>IMW</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 11:36:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5687</guid>
		<description>Lho koq dimarahin, saya malah seneng ada tulisan seperti ini, sebab ketika suatu "gerakan" menjadi makin tua dan besar, biasanya banyak "penumpang-penumpang yang mau enaknya sendiri". Jadi perlu ada pemikiran-pemikiran yang menjaga nafas awal. 

Soal open source vs closed source, saya menganut aliran seperti pemerintah Eropa atau mungkin USA, suatu dana yang diberikan oleh publik, maka harus dikembalikan sebesar-besarnya kepada publik.  Ini yang membedakan antara penggunaan software utk pemerintah dan di dunia bisnis.  Untuk itulah argumentasi Open vs closed di penggunaan secara luas di pemerintah masih sangat dibutuhkan (kalau penggunaan khusus, dan sedikit mungkin lain lagi).

Oleh karena itu sangat tidak lucu kalau proyek pemerintah mendanai pengembangan software, dan hasilnya tidak diberikan secara bebas kepada publik.  Sebagai contoh proyek penelitian dana pemerintah :-) proyek pengembangan perangkat lunak dana pemerintah (di badan pemerintahan), dsb.. dsb (justru itu salah stau "milestone" dari roadmap yang sempat saya cetuskan, setelah terbentuknya POSS di kampus, adalah terbentuknya repository aplikasi Open Source yg dikembangkan dg dana pemerintah tersebut.

Faktor pengembalian kepada publik, akan lebih besar nilainya kalau infrastruktur yang digunakan sebagai pengembangan software tersebut juga bersifat pembebasan pengembalian kepada publik.

Nah sebelum kita bisa sampai fase itu, kita memasuki fase mendapatkan keyakinan dulu orang untuk melakukan hal itu.  Trend saat ini kita masih kuat sbagai "pengguna softaware gratis yang legal" barulah fase awal sebelum kita mendapatkan "user based" yang memungkinkan misal memodali pengembang lokal yang hasilnya di open sourcekan.

"Seandainya" level keinginan sudah sampai ke arah sana, maka tidak tertutup kemungkinan pendanaan bagi developer open source utk membuat software dan hasilnya di open sourcekan, tanpa si developer itu perlu memikirkan "periuk nasi".

Jelas jalan masih panjang, karena secara histori, dunia komputer di Indonesia itu tidak diwarnai dengan "sharing culture" karena diawali dgn pusat-pusat komputer di kampus yg sangat ekslusif :-(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lho koq dimarahin, saya malah seneng ada tulisan seperti ini, sebab ketika suatu &#8220;gerakan&#8221; menjadi makin tua dan besar, biasanya banyak &#8220;penumpang-penumpang yang mau enaknya sendiri&#8221;. Jadi perlu ada pemikiran-pemikiran yang menjaga nafas awal. </p>
<p>Soal open source vs closed source, saya menganut aliran seperti pemerintah Eropa atau mungkin USA, suatu dana yang diberikan oleh publik, maka harus dikembalikan sebesar-besarnya kepada publik.  Ini yang membedakan antara penggunaan software utk pemerintah dan di dunia bisnis.  Untuk itulah argumentasi Open vs closed di penggunaan secara luas di pemerintah masih sangat dibutuhkan (kalau penggunaan khusus, dan sedikit mungkin lain lagi).</p>
<p>Oleh karena itu sangat tidak lucu kalau proyek pemerintah mendanai pengembangan software, dan hasilnya tidak diberikan secara bebas kepada publik.  Sebagai contoh proyek penelitian dana pemerintah <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> proyek pengembangan perangkat lunak dana pemerintah (di badan pemerintahan), dsb.. dsb (justru itu salah stau &#8220;milestone&#8221; dari roadmap yang sempat saya cetuskan, setelah terbentuknya POSS di kampus, adalah terbentuknya repository aplikasi Open Source yg dikembangkan dg dana pemerintah tersebut.</p>
<p>Faktor pengembalian kepada publik, akan lebih besar nilainya kalau infrastruktur yang digunakan sebagai pengembangan software tersebut juga bersifat pembebasan pengembalian kepada publik.</p>
<p>Nah sebelum kita bisa sampai fase itu, kita memasuki fase mendapatkan keyakinan dulu orang untuk melakukan hal itu.  Trend saat ini kita masih kuat sbagai &#8220;pengguna softaware gratis yang legal&#8221; barulah fase awal sebelum kita mendapatkan &#8220;user based&#8221; yang memungkinkan misal memodali pengembang lokal yang hasilnya di open sourcekan.</p>
<p>&#8220;Seandainya&#8221; level keinginan sudah sampai ke arah sana, maka tidak tertutup kemungkinan pendanaan bagi developer open source utk membuat software dan hasilnya di open sourcekan, tanpa si developer itu perlu memikirkan &#8220;periuk nasi&#8221;.</p>
<p>Jelas jalan masih panjang, karena secara histori, dunia komputer di Indonesia itu tidak diwarnai dengan &#8220;sharing culture&#8221; karena diawali dgn pusat-pusat komputer di kampus yg sangat ekslusif <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Denny Depok</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5686</link>
		<dc:creator>Denny Depok</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 11:02:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5686</guid>
		<description>He..he..he.. dimarahin sama bapak opensource indonesia nih..

Setuju pak Made, point saya dalam 2 post saya adalah kita jangan terjebak hanya dalam pemakaian software gratis yang legal. Kalau istilah bapak harus bisa meng-enable, maka istilah saya adalah harus bisa mendewasakan diri kita dalam ber-IT. Saya saya melihat tren kita hanya sebagai user software gratis yang legal sangat kuat.

Saya gak pernah bilang hanya yang nulis kode yang termasuk opensource, tapi semua yang kontribusi. Seperti yang saya bilang kemarin, kritik aja bisa jadi kontribusi, apalagi nulis dokumen, ngajuin algoritma baru dan nulis kode.

Kalo soal closed source, ya mungkin kita sedikit berbeda. Karena bagi saya semua pilihan yang harus dihargai. Termasuk menghargai opensource dan non opensource.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>He..he..he.. dimarahin sama bapak opensource indonesia nih..</p>
<p>Setuju pak Made, point saya dalam 2 post saya adalah kita jangan terjebak hanya dalam pemakaian software gratis yang legal. Kalau istilah bapak harus bisa meng-enable, maka istilah saya adalah harus bisa mendewasakan diri kita dalam ber-IT. Saya saya melihat tren kita hanya sebagai user software gratis yang legal sangat kuat.</p>
<p>Saya gak pernah bilang hanya yang nulis kode yang termasuk opensource, tapi semua yang kontribusi. Seperti yang saya bilang kemarin, kritik aja bisa jadi kontribusi, apalagi nulis dokumen, ngajuin algoritma baru dan nulis kode.</p>
<p>Kalo soal closed source, ya mungkin kita sedikit berbeda. Karena bagi saya semua pilihan yang harus dihargai. Termasuk menghargai opensource dan non opensource.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: IMW</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5685</link>
		<dc:creator>IMW</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 09:32:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5685</guid>
		<description>Sayang sekali dalam artikel part 2 ini malah banyak hal yg "kontradiksi". Seperti yang saya ungkapkan dalam komentar saya, untuk mencapai suatu "sharing culture ala Open Source" kita akan melewati fase-fase tertentu (untuk meloncat jelas tidak mungkin yang ada malah terjebak ke fokus penggunaan barang gratis dan legal saja).

Seperti dalam artikel saya di INFOKOMPUTER (Seingat saya), menanggapi masalah solusi murah dan legal, jawaban saya pertimbangan itu saja tidak cukup (Be Legal is not enough), tetapi harus dilihat mana yang meng-"enable" kemungkinan pengembangan.

Mengapa memperbedabatkan open source vs closed source menjadi penting, karena justru itu yang akan sebagai titik tolak bahwa pertimbangan kita tidak berhenti hanya pada gratis dan non gratis atau illegal atau legal saja, tetapi akan lebih kepada pertimbangkan mana yang meng-enable (membuka kesempatan) pengembangan lebih jauh.

Membuka kesempatan bukan berarti langsung tercipta suasana tersebut.   Seperti yg diungkapkan Gary Nutt (pengarang buku Kernel Project, keputusannya meninggalkan Windows sebagai platform pengajaran karena keterbatasan untuk meng-enable mahasiswanya belajar lebih dalam lagi.

Saya setuju, kalau dikatakan saat ini memang banyak pihak pihak yg menggunakan label Open Source untuk sarana dagang, atau "issue" melakukan pendekatan bisnis ataupun kelompok.  Yang seperti ini memang harus di"jewer" ke ke ke ke

Tetapi dalam kaitan "model" secara global misal Open Source sebagai development model ini, maka kita tidak bisa mengelompokkan bahwa mereka yang kontribusi hanyalah mereka yang coding software open source. Atau mereka yang do-something hanyalah mereka yang menulis program Open Source. Sama halnya dengan proses software development, mereka yang melakukan analisis ethnografi tanpa menulis 1 coding pun (misal B. Nardi) tidak bisa kita sebut bukan developer. Kontribusi mereka tetap ada.

Sebetulnya saat ini banyak koq orang yg develop aplikasi Open Source (bukan cuma Ariya, Mdamt, atau Deny Purefect), misal Owo, FT, terus yang membuat BAIK, Anton (playsms). Ketika saya melakukan survey kecil-kecilan 2003-an, ada banyak persh yang sudah merelease aplikasi mereka secara open source. he he he.  

Justru itu salah satu tujuan WOSOC adalah membuat developer Open Source Indonesia muncul ke permukaan.  Karena sulit sekali bagi mereka untuk tampil ke permukaan,  Tanpa mereka bisa tampil ke permukaan bagaimana bisa menarik kelompok developer atau membuat komunitas developer yang dibutuhkan dalam pengembangan open source.

Hayo siapa mau bergabung jadi presenter project di WOSOC, slot untuk presentasi masih ada....  Silahkan kontak saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sayang sekali dalam artikel part 2 ini malah banyak hal yg &#8220;kontradiksi&#8221;. Seperti yang saya ungkapkan dalam komentar saya, untuk mencapai suatu &#8220;sharing culture ala Open Source&#8221; kita akan melewati fase-fase tertentu (untuk meloncat jelas tidak mungkin yang ada malah terjebak ke fokus penggunaan barang gratis dan legal saja).</p>
<p>Seperti dalam artikel saya di INFOKOMPUTER (Seingat saya), menanggapi masalah solusi murah dan legal, jawaban saya pertimbangan itu saja tidak cukup (Be Legal is not enough), tetapi harus dilihat mana yang meng-&#8221;enable&#8221; kemungkinan pengembangan.</p>
<p>Mengapa memperbedabatkan open source vs closed source menjadi penting, karena justru itu yang akan sebagai titik tolak bahwa pertimbangan kita tidak berhenti hanya pada gratis dan non gratis atau illegal atau legal saja, tetapi akan lebih kepada pertimbangkan mana yang meng-enable (membuka kesempatan) pengembangan lebih jauh.</p>
<p>Membuka kesempatan bukan berarti langsung tercipta suasana tersebut.   Seperti yg diungkapkan Gary Nutt (pengarang buku Kernel Project, keputusannya meninggalkan Windows sebagai platform pengajaran karena keterbatasan untuk meng-enable mahasiswanya belajar lebih dalam lagi.</p>
<p>Saya setuju, kalau dikatakan saat ini memang banyak pihak pihak yg menggunakan label Open Source untuk sarana dagang, atau &#8220;issue&#8221; melakukan pendekatan bisnis ataupun kelompok.  Yang seperti ini memang harus di&#8221;jewer&#8221; ke ke ke ke</p>
<p>Tetapi dalam kaitan &#8220;model&#8221; secara global misal Open Source sebagai development model ini, maka kita tidak bisa mengelompokkan bahwa mereka yang kontribusi hanyalah mereka yang coding software open source. Atau mereka yang do-something hanyalah mereka yang menulis program Open Source. Sama halnya dengan proses software development, mereka yang melakukan analisis ethnografi tanpa menulis 1 coding pun (misal B. Nardi) tidak bisa kita sebut bukan developer. Kontribusi mereka tetap ada.</p>
<p>Sebetulnya saat ini banyak koq orang yg develop aplikasi Open Source (bukan cuma Ariya, Mdamt, atau Deny Purefect), misal Owo, FT, terus yang membuat BAIK, Anton (playsms). Ketika saya melakukan survey kecil-kecilan 2003-an, ada banyak persh yang sudah merelease aplikasi mereka secara open source. he he he.  </p>
<p>Justru itu salah satu tujuan WOSOC adalah membuat developer Open Source Indonesia muncul ke permukaan.  Karena sulit sekali bagi mereka untuk tampil ke permukaan,  Tanpa mereka bisa tampil ke permukaan bagaimana bisa menarik kelompok developer atau membuat komunitas developer yang dibutuhkan dalam pengembangan open source.</p>
<p>Hayo siapa mau bergabung jadi presenter project di WOSOC, slot untuk presentasi masih ada&#8230;.  Silahkan kontak saya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tes</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5684</link>
		<dc:creator>tes</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 08:12:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5684</guid>
		<description>A</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>A</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pebbie</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5682</link>
		<dc:creator>pebbie</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 06:01:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5682</guid>
		<description>wahahaha... klorofil/purefect kurang terkenal dibanding KDE/Qt atau Maemo.. jadinya nggak diaku sebagai opensource.. hebat kali yang mengaku dari komunitas FOSS sampai punya kewenangan membuat sertifikasi siapa yang FOSS dan anti-FOSS (~murtad?)..ckckck

mas denny nggak diaku.. wakakak.. tulisannya langsung terbukti.. dilema 'opensource' di Indonesia.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wahahaha&#8230; klorofil/purefect kurang terkenal dibanding KDE/Qt atau Maemo.. jadinya nggak diaku sebagai opensource.. hebat kali yang mengaku dari komunitas FOSS sampai punya kewenangan membuat sertifikasi siapa yang FOSS dan anti-FOSS (~murtad?)..ckckck</p>
<p>mas denny nggak diaku.. wakakak.. tulisannya langsung terbukti.. dilema &#8216;opensource&#8217; di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Affan</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia-part-2/#comment-5680</link>
		<dc:creator>Affan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 04:40:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=104#comment-5680</guid>
		<description>Jadi inget kalau bikin artikel2 spt ini http://affanzbasalamah.wordpress.com/2007/02/18/rants-on-linux-movements-in-indonesia/ siap2 menuai banyak komentar :) Nice article, I hope we share the same idea...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi inget kalau bikin artikel2 spt ini <a href="http://affanzbasalamah.wordpress.com/2007/02/18/rants-on-linux-movements-in-indonesia/" rel="nofollow">http://affanzbasalamah.wordpress.com/2007/02/18/rants-on-linux-movements-in-indonesia/</a> siap2 menuai banyak komentar <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Nice article, I hope we share the same idea&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
