<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Mempertanyakan OpenSource Indonesia</title>
	<atom:link href="http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/</link>
	<description>Gosipin IT Bareng Mas Denny Depok Yuk...</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 01:42:02 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
		<item>
		<title>By: Denny Depok IT Blog &#187; Mempertanyakan OpenSource Indonesia Part 2</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5672</link>
		<dc:creator>Denny Depok IT Blog &#187; Mempertanyakan OpenSource Indonesia Part 2</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 23:02:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5672</guid>
		<description>[...]  Mempertanyakan OpenSource Indonesia Part 2    September 25th, 2008 &#124; Category: gosip, open source, programming [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...]  Mempertanyakan OpenSource Indonesia Part 2    September 25th, 2008 | Category: gosip, open source, programming [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: IMW</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5671</link>
		<dc:creator>IMW</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 09:47:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5671</guid>
		<description>Kebetulan saya terlibat dari awal sosialisasi Open Source di indoensia, dikatakan "kegratisan" sebagai landasan awal di Indonesia adalah kurang tepat (itu malah fase berikutnya, karena di fase awal sosialisasi program bajakan gratis masih mudah diperoleh dan ndak dikejar-kejar).

Sebagai gambaran saat itu essay saya yg relatif tersebar luas adalah :

http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/artikel/Abad21/

Yang kuncinya mencari "platform" pembelajaran yg mendorong terciptanya developer developer lokal. Karena melihat sejarah masukknya platform yang digunakan sebagai media pembelajaran di Indonesia kurang mendorong berkembangnya semangat sebagai developer (lebih pada semangat sebagai end-user)

Dalam road show bermodal sendiri th 1999-an issue yang saya angkat adalah kemandirian pengembangan sistem.

http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/artikel/Desentralisasi/

Tentus aja essay tersebut ditulis dalam th 1999-an he he he dan harap dilihat dengan kondisi pada tahun segitu

Hanya pada perkembangannya ketika setelah masa "reformasi" dan krisis ekonomi, banyak persh konsultan tertarik dengan Open Soruce karena bisa menyelamatkan dari faktor ekonomis (proyek Intranet/Internet sudah terlanjur ditanda-tangani, tapi harga USD utk beli software lisensi jadi tinggi).  

Faktor ini menyebabkan kecenderungan orang menjadi lebih pada efek "gratis" dari OpeN Source ketimbang efek mengembangkan kemampuan developer local.  Tentu saja itu no problem, karena semua itu ada "fasenya" (industri TI kita tidak pernah mengalami era seperti di USA atau Eropa, era-era computer club, atau communitas developer, jadi sekarang kita baru pada fase pembentukan semangat itu he he he)

Untuk itu menurut saya kalau kita lihat di fase pengadopsian pemerintah sepertinya mengikuti tebakan saya

http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/?id=5

Jadi saat ini kita baru pada fase 1-2 saja belum sampai ke 3-4. Wajar-wajar saja sih... selama arah itu tetap kita pegang.

Justru itu saya sengaja gelar WOSOC [http://www.wosoc-conference.org] agar bisa terjadi pertukaran "idea" antara yang hanya menggunakan, melakukan capacity building dengan Open Source, dan yang mengembangkan Open Source"  Karena semua fase itu sama pentingnya dan tidak bisa kita anggap mana yang lebih penting.

Istilahnya jalan masih panjang, dan itu adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kebetulan saya terlibat dari awal sosialisasi Open Source di indoensia, dikatakan &#8220;kegratisan&#8221; sebagai landasan awal di Indonesia adalah kurang tepat (itu malah fase berikutnya, karena di fase awal sosialisasi program bajakan gratis masih mudah diperoleh dan ndak dikejar-kejar).</p>
<p>Sebagai gambaran saat itu essay saya yg relatif tersebar luas adalah :</p>
<p><a href="http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/artikel/Abad21/" rel="nofollow">http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/artikel/Abad21/</a></p>
<p>Yang kuncinya mencari &#8220;platform&#8221; pembelajaran yg mendorong terciptanya developer developer lokal. Karena melihat sejarah masukknya platform yang digunakan sebagai media pembelajaran di Indonesia kurang mendorong berkembangnya semangat sebagai developer (lebih pada semangat sebagai end-user)</p>
<p>Dalam road show bermodal sendiri th 1999-an issue yang saya angkat adalah kemandirian pengembangan sistem.</p>
<p><a href="http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/artikel/Desentralisasi/" rel="nofollow">http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/artikel/Desentralisasi/</a></p>
<p>Tentus aja essay tersebut ditulis dalam th 1999-an he he he dan harap dilihat dengan kondisi pada tahun segitu</p>
<p>Hanya pada perkembangannya ketika setelah masa &#8220;reformasi&#8221; dan krisis ekonomi, banyak persh konsultan tertarik dengan Open Soruce karena bisa menyelamatkan dari faktor ekonomis (proyek Intranet/Internet sudah terlanjur ditanda-tangani, tapi harga USD utk beli software lisensi jadi tinggi).  </p>
<p>Faktor ini menyebabkan kecenderungan orang menjadi lebih pada efek &#8220;gratis&#8221; dari OpeN Source ketimbang efek mengembangkan kemampuan developer local.  Tentu saja itu no problem, karena semua itu ada &#8220;fasenya&#8221; (industri TI kita tidak pernah mengalami era seperti di USA atau Eropa, era-era computer club, atau communitas developer, jadi sekarang kita baru pada fase pembentukan semangat itu he he he)</p>
<p>Untuk itu menurut saya kalau kita lihat di fase pengadopsian pemerintah sepertinya mengikuti tebakan saya</p>
<p><a href="http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/?id=5" rel="nofollow">http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/~made/?id=5</a></p>
<p>Jadi saat ini kita baru pada fase 1-2 saja belum sampai ke 3-4. Wajar-wajar saja sih&#8230; selama arah itu tetap kita pegang.</p>
<p>Justru itu saya sengaja gelar WOSOC [http://www.wosoc-conference.org] agar bisa terjadi pertukaran &#8220;idea&#8221; antara yang hanya menggunakan, melakukan capacity building dengan Open Source, dan yang mengembangkan Open Source&#8221;  Karena semua fase itu sama pentingnya dan tidak bisa kita anggap mana yang lebih penting.</p>
<p>Istilahnya jalan masih panjang, dan itu adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pebbie</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5669</link>
		<dc:creator>pebbie</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 03:40:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5669</guid>
		<description>salah satu yang saya ingat waktu ngobrol dengan Niibe Yutaka tentang perangkat lunak open-source adalah bahwa perangkat lunak open-source (PLOS) mengubah pandangan bahwa perangkat lunak merupakan sekedar komoditi sehingga dengan adanya PLOS justru akan meningkatkan apresiasi terhadap developer. 

PLOS yang dikembangkan adalah perangkat lunak yang fungsinya generik sehingga dapat diterapkan di berbagai tempat sedangkan bisnis yang terjadi adalah pengadopsian (kustomisasi) PLOS sesuai kebutuhan organisasi. 

dengan begini semua untung. developer dapurnya tetap ngebul dan kemampuannya dihargai dan lebih independen, masyarakat/organisasi bisa tenang karena sistem yang diadopsi tetap ada yang merawat dengan harga produk = 0.

kalaupun ada sistem yang proprietary juga tidak masalah dan tetap hidup karena proprietary dan opensource bukan sesuatu yang sebanding dengan benar-salah melainkan pilihan hidup. Masing-masing model bisnis bisa tetap hidup beriringan tanpa bertubrukan.

&lt;em&gt;see, isn't it a beautiful world?&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salah satu yang saya ingat waktu ngobrol dengan Niibe Yutaka tentang perangkat lunak open-source adalah bahwa perangkat lunak open-source (PLOS) mengubah pandangan bahwa perangkat lunak merupakan sekedar komoditi sehingga dengan adanya PLOS justru akan meningkatkan apresiasi terhadap developer. </p>
<p>PLOS yang dikembangkan adalah perangkat lunak yang fungsinya generik sehingga dapat diterapkan di berbagai tempat sedangkan bisnis yang terjadi adalah pengadopsian (kustomisasi) PLOS sesuai kebutuhan organisasi. </p>
<p>dengan begini semua untung. developer dapurnya tetap ngebul dan kemampuannya dihargai dan lebih independen, masyarakat/organisasi bisa tenang karena sistem yang diadopsi tetap ada yang merawat dengan harga produk = 0.</p>
<p>kalaupun ada sistem yang proprietary juga tidak masalah dan tetap hidup karena proprietary dan opensource bukan sesuatu yang sebanding dengan benar-salah melainkan pilihan hidup. Masing-masing model bisnis bisa tetap hidup beriringan tanpa bertubrukan.</p>
<p><em>see, isn&#8217;t it a beautiful world?</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sufehmi</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5668</link>
		<dc:creator>sufehmi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 01:04:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5668</guid>
		<description>&lt;i&gt;Apa industri software lokal di Indonesia bisa berkembang maju dengan model open source&lt;/i&gt;

Sangat bisa. Sudah ada beberapa contoh sukses. Di luar negeri sudah jauh lebih banyak lagi.

Malah barrier of entry nya menjadi jauh lebih rendah. Tidak berencana bisnis, tapi malah dapat bisnis :-)
Contoh: ada yang berbagi code karena sekedar senang berbagi. Ternyata kemudian dia malah jadi dapat business dari situ.

&lt;i&gt;Berapa jumlah coder di perushaan software Indonesia yg mendapat nafkah dari coding open source. Versus berapa yang hidup dari coding untuk platform propriatary.&lt;/i&gt;

Masih jauh lebih besar yang proprietary saya kira, karena mindset mayoritas kita masih kesini. Cukup jelas nampak juga di thread ini.

&lt;i&gt;Kalau memang yg dibutuhkan adalah â€œAffordable Softwareâ€, kenapa harus open source. Apa untungnya bagi pengguna kalau harus open source.&lt;/i&gt;

Maaf tidak bisa me link langsung, jadi silahkan bisa lihat komentar saya sebelumnya tgl 23 Sep pukul 8:25 am

Bicara mengenai affordable software -- masih ada yang ingat berapa rata-rata harga software sebelum Open Source mulai populer ?  :-)

Saya kebetulan langganan PC Magazine di awal tahun 90 an, jadi saya masih ingat betul. (hint: it's bloody expensive)

Sekarang ? Applications bisa berharga cuma US$ 5, tapi developernya bisa tetap kaya raya. 

Dengan open source semuanya bisa menang - pengguna (aplikasi murah, reliable, tidak terkunci vendor, dst), vendor (mass reach, massive feedback, etc), dst, dst.

Yah, kebetulan saya mengalami kedua masa tersebut (murni proprietary / dulu - dan sekarang), jadi saya merasakan betul perbedaannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><i>Apa industri software lokal di Indonesia bisa berkembang maju dengan model open source</i></p>
<p>Sangat bisa. Sudah ada beberapa contoh sukses. Di luar negeri sudah jauh lebih banyak lagi.</p>
<p>Malah barrier of entry nya menjadi jauh lebih rendah. Tidak berencana bisnis, tapi malah dapat bisnis <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /><br />
Contoh: ada yang berbagi code karena sekedar senang berbagi. Ternyata kemudian dia malah jadi dapat business dari situ.</p>
<p><i>Berapa jumlah coder di perushaan software Indonesia yg mendapat nafkah dari coding open source. Versus berapa yang hidup dari coding untuk platform propriatary.</i></p>
<p>Masih jauh lebih besar yang proprietary saya kira, karena mindset mayoritas kita masih kesini. Cukup jelas nampak juga di thread ini.</p>
<p><i>Kalau memang yg dibutuhkan adalah â€œAffordable Softwareâ€, kenapa harus open source. Apa untungnya bagi pengguna kalau harus open source.</i></p>
<p>Maaf tidak bisa me link langsung, jadi silahkan bisa lihat komentar saya sebelumnya tgl 23 Sep pukul 8:25 am</p>
<p>Bicara mengenai affordable software &#8212; masih ada yang ingat berapa rata-rata harga software sebelum Open Source mulai populer ?  <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya kebetulan langganan PC Magazine di awal tahun 90 an, jadi saya masih ingat betul. (hint: it&#8217;s bloody expensive)</p>
<p>Sekarang ? Applications bisa berharga cuma US$ 5, tapi developernya bisa tetap kaya raya. </p>
<p>Dengan open source semuanya bisa menang - pengguna (aplikasi murah, reliable, tidak terkunci vendor, dst), vendor (mass reach, massive feedback, etc), dst, dst.</p>
<p>Yah, kebetulan saya mengalami kedua masa tersebut (murni proprietary / dulu - dan sekarang), jadi saya merasakan betul perbedaannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hardjono Teknoblog &#187; Blog Archive &#187; Affordable Software vs. Open Source di Indonesia</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5667</link>
		<dc:creator>Hardjono Teknoblog &#187; Blog Archive &#187; Affordable Software vs. Open Source di Indonesia</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 00:55:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5667</guid>
		<description>[...] Denny Depok menayangkan blog yang menarik sekali tentang Open Source di Indonesia. Membaca tulisan beliau yang cukup panjang [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Denny Depok menayangkan blog yang menarik sekali tentang Open Source di Indonesia. Membaca tulisan beliau yang cukup panjang [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hardjono</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5666</link>
		<dc:creator>Hardjono</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 00:28:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5666</guid>
		<description>Memang benar, open source is not free software. Mungkin yang dibutuhkan di tanah air adalah "affordable software". Bukan gratis, tapi murah.

Ungkapan si Bapak tsb menarik juga. Begini pertanyaan2 saya:
- Apa industri software lokal di Indonesia bisa berkembang maju dengan model open source (yaitu yg tulen open source, menghormati GPL dan intellectual property lainnya).
- Berapa jumlah coder di perushaan software Indonesia yg mendapat nafkah dari coding open source. Versus berapa yang hidup dari coding untuk platform propriatary.
- Berapa nilai eksport Indonesia keluar negeri berdasar open source software.
- Kalau memang yg dibutuhkan adalah "Affordable Software", kenapa harus open source. Apa untungnya bagi pengguna kalau harus open source.

Salam kenal.
[TH]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang benar, open source is not free software. Mungkin yang dibutuhkan di tanah air adalah &#8220;affordable software&#8221;. Bukan gratis, tapi murah.</p>
<p>Ungkapan si Bapak tsb menarik juga. Begini pertanyaan2 saya:<br />
- Apa industri software lokal di Indonesia bisa berkembang maju dengan model open source (yaitu yg tulen open source, menghormati GPL dan intellectual property lainnya).<br />
- Berapa jumlah coder di perushaan software Indonesia yg mendapat nafkah dari coding open source. Versus berapa yang hidup dari coding untuk platform propriatary.<br />
- Berapa nilai eksport Indonesia keluar negeri berdasar open source software.<br />
- Kalau memang yg dibutuhkan adalah &#8220;Affordable Software&#8221;, kenapa harus open source. Apa untungnya bagi pengguna kalau harus open source.</p>
<p>Salam kenal.<br />
[TH]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Denny Depok</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5664</link>
		<dc:creator>Denny Depok</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 14:18:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5664</guid>
		<description>@pebbie

Iya nih jadi terlalu serius :D

Pokoknya mudah-mudahan kita bisa menarik manfaat dari gerakan opensource sekarang. Saya harap sih bukan manfaat gratisnya aja, tapi manfaat bagi intelektualitas kita.

Caiyo selalu opensource indonesia.. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@pebbie</p>
<p>Iya nih jadi terlalu serius <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Pokoknya mudah-mudahan kita bisa menarik manfaat dari gerakan opensource sekarang. Saya harap sih bukan manfaat gratisnya aja, tapi manfaat bagi intelektualitas kita.</p>
<p>Caiyo selalu opensource indonesia.. <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pebbie</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5663</link>
		<dc:creator>pebbie</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 13:59:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5663</guid>
		<description>hehe.. ingat lagunya s07.. kami adalah petani-petani kesepian.. :D

gak mau komen serius ah.. udah terlalu serius diskusinya.. :)

aneh ya? waktu kecil di SD diajarkan kalau di Indonesia itu terkenal gotong-royong dan tenggang rasa..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hehe.. ingat lagunya s07.. kami adalah petani-petani kesepian.. <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>gak mau komen serius ah.. udah terlalu serius diskusinya.. <img src='http://denny.klorofil.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>aneh ya? waktu kecil di SD diajarkan kalau di Indonesia itu terkenal gotong-royong dan tenggang rasa..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: prast</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5661</link>
		<dc:creator>prast</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 13:10:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5661</guid>
		<description>dulu awalnya saya selalu bilang free beer tapi setelah baca sana sini dan juga di sini tentunya akhirnya saya berpikiran FOSS itu ya free speech, freedom... tapi sayangnya saya sendiri juga yg harus ngerubah mindset temen-2 yg kadung saya 'racuni' dari awal dengan free beer.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dulu awalnya saya selalu bilang free beer tapi setelah baca sana sini dan juga di sini tentunya akhirnya saya berpikiran FOSS itu ya free speech, freedom&#8230; tapi sayangnya saya sendiri juga yg harus ngerubah mindset temen-2 yg kadung saya &#8216;racuni&#8217; dari awal dengan free beer.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Andra &#38; my Backbone</title>
		<link>http://denny.klorofil.org/2008/09/mempertanyakan-opensource-indonesia/#comment-5660</link>
		<dc:creator>Andra &#38; my Backbone</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 09:28:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://denny.klorofil.org/?p=103#comment-5660</guid>
		<description>Sepertinya saya developer yang salah menyikapi open source project. Karena cuma bisa download, oprek dan pakai untuk diri sendiri.

&lt;blockquote&gt;Dan bagi vendor, open source adalah cara marketing yang sangat menarik.&lt;/blockquote&gt;
Setuju.

Adakah open source project hosting web site khusus Indonesia punya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya saya developer yang salah menyikapi open source project. Karena cuma bisa download, oprek dan pakai untuk diri sendiri.</p>
<blockquote><p>Dan bagi vendor, open source adalah cara marketing yang sangat menarik.</p></blockquote>
<p>Setuju.</p>
<p>Adakah open source project hosting web site khusus Indonesia punya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
