Think Inside The Box !!!
Akhir-akhir ini saya sering mendengar kata-kata seperti “be creative !”, “think out of the box !” dan semacamnya. Bahkan ada satu stasiun radio anak muda di jakarta yang menggunakan “think out of the box” sebagai tema radio tersebut dalam tahun 2009 ini.
Saya sedikit tertarik dengan kata-kata “think out of the box”, sebab arti harafiah dari kata-kata tersebut adalah kita harus berfikir diluar kebiasaan yang ada untuk mendapatkan solusi terbaik untuk permasalahan yang dihadapi. Yang menarik bagi saya adalah ini soal box siapa ? soal kebiasaan berfikir siapa ?
Misalnya contoh ada permasalahan kekeringan di suatu desa. Kalau para petani disuruh menyelesaikan, kemungkinan besar mereka menggunakan solusi mengambil air secara manual dari sumber air terdekat. Kalau engineer mungkin mendatangkan mesin pompa atau membuat saluran air. Kalau ahli cuaca mungkin dia melakukan pembuatan hujan buatan. Bagi petani, membuat menggunakan mesin mungkin adalah sesuatu yang out of the box, padahal itu merupakan sesuatu yang biasa bagi enginer. Bagi enginer, membuat hujan buatan mungkin sesuatu yang out of the box, walaupun sebenarnya dianggap hal yang biasa bagi ahli cuaca.
Jadi, sering kali permasalahannya bukan suatu permasalahan memerlukan cara pikir yang berbeda, tapi mungkin perlu box yang tepat. Atau bahkan yang paling sering mungkin box kita kurang besar untuk memikirkan masalah tersebut.
Contoh lain dari pengalaman pribadi saya. Waktu saya kuliah saya punya teman yang memiliki rasa keingintahuan yang besar. Suatu hari dia menemui saya dan bilang dia menemukan suatu metode kompresi yang baru. Setelah penjang menjelaskan tentang “metode baru”-nya, respon saya waktu itu adalah “Maaf ya, tapi ini kan metode RLE yang dipakai format BMP”. Tidak putus asa, temen saya tadi di kemudian hari menemui saya lagi dan mepresentasikan metode baru kompresi, dan akhirnya ternyata metode itu sama persis dengan metode LZW.
Dari segi kreativitas, teman saya itu hebat sekali, dengan pemikirannya sendiri bisa menemukan teknik kompresi, tapi sayang box dia terlalu kecil sehingga usaha yang dilakukan sia-sia sebab penemuannya sudah diimplementasikan berpuluh-puluh tahun sebelumnya.
Jadi, sebelum mengklaim untuk berfikir out of the box, ada baiknnya kita mencoba memperbesar box pemikiran kita. Salah satunya adalah dengan memperhatikan benar-benar pelajaran waktu di sekolah. Kalau punya kesempatan, ambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebab sekolah adalah cara termudah untuk memperbesar box pemikiran kita. Atau, kalau punya waktu, cobalah membaca literatur sesuai dengan bidang kita. Kalu bisa sih jangan cuma googling, soalnya kalo googling sering kali kita cuma membaca artikel ringkasan sehingga kita cuma punya pemahaman yang dangkal dan setengah-setengah.
Jadi enggak ada salahnya untuk “Think Inside The Box !” tapi dalam a really-realy big box.
Nb. waktu saya omongin masalah ini ke temen saya, tanggapannya cuma satu : “Den, yang begini ini nih yang disebut think out of the box”…. halah……
August 17th, 2009 at 10:46 pm
Dalam bahasa Inggris, kata ‘the’ adalah pengganti suatu objek yang sudah diketahui.
Sehingga dalam contoh di atas, menurut saya seharusnya sudah diketahui itu ‘box’ milik siapa (petani, engineer, atau ahlia cuaca) tergantung siapa yang sedang membahasnya.
Jadi tidak perlu lagi ada pertanyaan,”Box yang mana?”, atau “Box-nya siapa?”.
October 28th, 2009 at 10:24 pm
Sebenarnya kita memang suka salah kaprah menggunakan istilah, out of the box toh akhrinya harus inside the box juga karena sebuah ide perlu dinyatakan dan bermanfaat di dalam kotak. Barangkali temuan yang bersifat sejajar memang banyak terjadi di Indonesia. Masalahnya karena seringkali kurang di informasikan atau iklim untuk mengakomodir penemuan itu kurang terbuka akhirnya sering muncul apa yang nampaknya ide baru ternyata ide yang sudah lama diterapkan. hehehehe untung ada internet sebenarnya jadi ide baru bisa diuji apa sudah ada yang menggunakana tau tidak. Ok mas, salut buat mas deni dengan Krorofil nya.