Denny Depok IT Blog

Ngomongin Klorofil Project dan dunia IT, dari perkembangan, gosip sampe teori konspirasinya :D

Archive for the 'Enterprise' Category

Puncak Emas Software Perusahaan : Integrated Enterprise Collaboration System

Sejak awal perkembangan komputer, kalangan bisnis adalah kalangan yang paling banyak mengeksploitasi teknologi informasi untuk membantu operasionalnya. Sesuai dengan perkembangan teknologi dari masa ke masa, muncul perangkat lunak-perangkat lunak yang yang dapat membantu operasi bisnis yang mampu buat pada masa tersebut. Dimulai dari aplikasi bisnis sederhana seperti text processor (dari WordStart, WordPerfect, MS. Word), spreadsheet (Lotus 123, Quattro, Excel), database (DBase, Paradox, Oracle), aplikasi spesial seperti ERP-CRM sampai sistem proses bisnis muktahir BPMS (Business Process Management System).

Jika melihat evolusi software perusahaan diatas, terlihat bahwa software perusahaan berkembang dengan semakin memasuki semua sendi-sendi bisnis untuk menuju suatu sistem informasi terintegrasi yang menjadi jantung dari pelaksanaan bisnis. Menurut pengamatan saya, dengan tersedianya infrastruktur IT yang sudah sangat memadai diperusahaan saat ini (mulai dari komputer disetiap meja staff yang terhubung ke jaringan, database besar yang mampu mengatur data jutaan/milyaran record, server-server yang mumpuni untuk proses komputasi perhitungan kompleks secara realtime), sudah saatnya sistem informasi perusahaan terintegrasi tersebut diimplementasikan saat ini. Perangkat lunak yang merupakan puncak atau holy grail dari software perusahaan yang saya sebut Integrated Enterprise Collaboration System (IECS).

Jadi bagaimanakah sistem informasi bisnis sempurna ini akan berbentuk ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu melihat struktur operasional organisasi bisnis saat ini yang bisa dilihat pada gambar dibawah ini (klik unutk gambar yang lebih besar).


Terlihat bahwa ada 4 lapisan penting dari organisasi. Lapisan pertama adalah struktur organisasi, yaitu bagaimana para staff dibagi berdasarkan bagian untuk mendapatkan tugas dan wewenang yang sesuai. Lapisan kedua adalah data, yaitu semua data yang berhubungan dengan operasi perusahaan, hal yang dialirkan diantara struktur organisasi selama operasional perusahaan sebagai darah organisasi. Lapisan ketiga adalah proses bisnis, yaitu lapisan yang menjelaskan bagaimana urut-urutan tugas diantara bagian untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Lapisan keempat adalah aplikasi-aplikasi khusus yang dipergunakan untuk mengolah data tertentu.

Sistem informasi bisnis yang sempurna adalah sistem informasi bisnis yang mencapture semua lapisan-lapisan diatas. Mampu mengabstraksikan semua lapisan diatas secara lengkap dan mampu mengintegrasikan semua lapisan diatas menjadi satu view komprehensif terhadap perusahaan.

Bagai mana bentuk tepatnya… hmm mungkin bagi para staf, tampilan yang akan dilihat mirip dengan aplikasi yang dipakai mereka saat ini. Bedanya, tampilan yang mereka lihat benar-benar layar yang ditujukan untuk mengerjakan suatu tugas tertentu sesuai dengan state suatu pekerjaan, sebab aplikasi-aplikasi IECS adalah aplikasi proses bisnis dengan banyak state dan banyak user. Jadi layar kerja yang mereka hadapi adalah layar yang benar-benar tepat, tidak ada layar umum yang bisa dilihat semua orang seperti aplikasi perusahaan saat ini.

Yang benar-benar berbeda adalah layar yang dilihat oleh developer dan administrator. Layar yang akan mereka lihat akan menampilkan semua lapisan perusahaan dalam satu aplikasi development/setting. Tidak seperti yang ada saat ini semua lapisan punya aplikasi masing-masing dan parahnya sering tiap lapisan dihandle oleh orang yang berbeda sehingga sulit membuat aplikasi perusahaan yang benar-benar tepat dan komprehensif.

Arsitektur IECS akan terlihat seperti dibawah ini (klik untuk gambar yang lebih besar).

Gimana, tertarik dengan IECS ? Kalo tertarik, mungkin perlu melihat yang saya dan tim saltanera kerjakan selama 1.5 tahun terakhir :D (klik untuk lebih besar)

4 comments

IT Dead Match : Project Manager VS Development Manager

Salah satu ciri khas vendor software indonesia adalah hampir semua merangkak dari perusahaan kecil berisi 2 sampai 4 orang kemudian berkembang menjadi perusahaan yang memiliki staff sampai puluhan sampai ratusan (belum pernah denger vendor software indonesia sampe ribuan pekerjanya). Jarang sekali ada vendor yang sudah di set-up dari awal untuk menjadi perusahaan menengah/besar, walaupun ada biasanya hanya menjadi agen software dari luar negeri dan hidup dari proyek deployment.

Kondisi diatas biasanya membuat struktur organisasi vendor IT berubah-ubah sesuai perjalanan waktu. Pada waktu awal (waktu 2-4 orang), semua staff pada level C, maksudnya CEO, CTO, C project manager, C analis, C programmer dan C tester (bacanya si project manager, si analis, si programmer dan si tester, soalnya yang ngerjain orangnya itu-itu aja :D )

Setelah perusahaan maju, biasanya staff akan ditambah, mulai dari programmer, marketing, administrasi, dokumenter dan yang lain-lain. Tetapi karena projeknya belum banyak, resource yang tersedia biasanya disharing diantara beberapa proyek. Maksudnya satu programmer bisa ngerjain 2 sampe 3 proyek sekaligus. Apalagi analis, marketer , tester dan administrasi, biasanya sudah default disharing ke banyak proyek. Struktur organisasi ini biasa disebut struktur matriks, dimana satu orang bisa punya beberapa bos, bos dari departemen dan bos dari proyek. Tapi karena masih relatif sedikit proyeknya, bos departemen biasanya yang jadi project manager, jadi gak terlalu masalah. Dan biasanya yang jadi project manager adalah developer paling senior.

Masalahnya muncul kalo proyeknya makin banyak dan proyek gak bisa lagi dihandle sama development manager, sehingga akhirnya di-hire-lah orang-orang yang khusus jadi project manager. Masalahnya adalah pada saat transisi kepemimpinan dari dari development manager yang lebih dekat ke programmer (teknis) menjadi project manager sesungguhnya yang lebih deket ke manajemen. Pekerja yang dulu bisa kong-kalikong dengan project manager (karena project manager ngerti permasalahan yang dihadapi developer) gak bisa lagi santai-santai, karena project manager sesungguhnya lebih mentingin pencapaian tujuan seperti schedule ontime, sesuai budget dan kualitas yang baik.

Masalah yang timbul biasanya ada kasak-kusuk antar developer tentang project manager yang kelewat tegas. Sebenernya enggak kelewat tegas sih, emang itu tugasnya, tapi developer yang emang biasa santai (sedikit malas lebih tepatnya) jadi harus ngikutin aturan baru (yang seharusnya dilakukan dari dulu). Kalau sudah gitu biasanya ada sedikit pembangkangan masal dari developer ke project manager (yang sesungguhnya). Masalahnya lebih besar lagi kalau development manager (DM) (yang dulunya senior developer dan project manager awal) terprovokasi dengan kasak-kusuk tadi dan merasa kekuasaan dia tergerus oleh kedatangan project manager (PM). Perlu diingat, developer (terutama development manager) sudah bergabung ke perusahaan jauh lebih dahulu dari project manager yang baru ini, yang tentu aja kedekatan diantara mereka jauh lebih kuat daripada ke project manager baru. Apalagi PM biasanya kemampuan teknisnya agak kurang (tapi kemampuan manajemennya lebih tinggi) daripada DM, jadi sering diragukan keputusannya.

Pertarungan akan berlanjut apabila tekanan penyelesaian proyek meningkat. PM yang berusaha menekan developer untuk mempercepat penyelesaian project akan berhadapan dengan DM (yang sudah ngerasa kekuasaannya tergerus) yang berusaha memprotek anak buahnya dengan alasan beban anak buahnya sudah overload. Masalah lebih besar lagi kalau DM menolak menambah programmer (kalau struktur organisasi matriks, penambahan staff adalah wewenang DM). Akhirnya ketegangan gak bisa dihindarkan, saling curiga antara PM dengan DM dan saling cari kesalahan akan mewarnai kegiatan sehari-hari. Apalagi kalo developernya memanfaatkan ketegangan ini untuk memperlambat pekerjaan (percaya deh, kalo atasan berantem, bawahan jadi bisa leha-leha memanfaatkan kekanak-kanakan atasan tadi :D ).

Akhirnya ??? Pekerjaan jadi banyak yang terbengkalai. Perintah dari PM akan dimentahkan DM. Perintah dari DM akan dimentahkan PM. Akhirnya developer bingung mo ngerjain yang mana, ya akhirnya leha-leha aja. Kalo ditanya salah satu atasan, persalahkan atasan yang lainnya :D. Kalau sudah tahap ini, proyek banyak yang terlambat atau gagal. Klien kecewa dan membatalkan proyek-proyek yang selanjutnya. Dah akhirnya, tinggal tunggu pembubaran perusahaan.

Inilah hal yang sering terjadi di vendor software. Bukan tutup karena gak ada kerjaan, tapi tutup karena kebanyakan kerjaan.

Solusinya ??? Perlu diingat oleh semua orang kalau PM harusnya berkuasa penuh terhadap proyek. Kenapa ? karena PM bisa melihat lebih luas terhadap keseluruhan pekerjaan dibandingkan orang lain. Walaupun DM dengan developernya memiliki kemampuan teknis yang mumpuni, tapi gak cukup luas untuk melihat kalau proyek bukan sekadar mrogram, tapi ada perencanaan jadwal, perencanaan perubahan, penjaminan kualitas, hubungan dengan klien dan aspek legal yang cuma bisa dilihat dengan jelas oleh orang sekaliber PM.

Struktur Organisasi Pohon (Disederhanakan)

Perusahaan yang merasa sudah besar sudah saatnya meninggalkan struktur matriks. Harusnya sudah berpindah ke struktur pohon seperti yang terlihat pada gambar diatas. Memang permasalahan DM jadi tidak ada. Perlu diingat DM biasanya developer yang paling senior yang biasanya sangat berjasa ke perusahaan bahkan mungkin ikut membangun perusahaan. Ya mau gak mau DM harus berubah fungsi, misal jadi manager untuk PM, jadi gak berhubungan langsung ke teknis. Atau kalau memang DM mau terus di level teknis, perusahaan bisa membuka departemen baru seperti departemen riset untuk membangun komponen software yang gak terbatas oleh jadwal waktu yang kaku.

Tapi tetep diinget, bagaimanapun struktur organisasinya, yang paling berpengaruh adalah tingkat profesionalisme setiap staff. Karena hal ini yang biasanya jadi hambatan kita sebagai bangsa indonesia yang biasanya mengutamakan hubungan baik antar personal sampai menghalalkan anomali-anomali yang ada.

11 comments

Evolusi Kebutuhan Manusia (Buat Yang Udah Masuk Ke Manajemen :D)

evolusi1.PNG(warning awal, penulis bukan ahli manajemen, semua ini hasil quote penulis dari orang-orang yang diajak ngobrol, baca buku, artikel dan nonton film — tapi bukan dari nonton reality show 6 jam yang isinya bencong melulu itu loh :P )

Kemaren ngobrol-ngobrol sama temen soal gimana sih milih orang yang tepat untuk menduduki suatu posisi yang punya bawahan (ups, ternyata banyak temen dah masuk ke level manajemen, saya ngapain aja ya ?). Emang untuk kita yang latar belakangnya teknik pas masuk ke level manajemen jadi agak kikuk, soalnya kita cuma dibekalin sedikit ilmu manajemen. Maunya sih terus jadi teknisi, tapi kalo diindonesia, jenjang karir kalo naek jabatan pasti jatohnya ke manajemen, gak ada istilah senior technical staff apalagi architect.

Nah selagi ngobrol tadi saya teringet sama pelajaran dosen manajemen proyek saya yang pernah ngomongin masalah evolusi kebutuhan manusia. Yang digambarin sama dosen saya dulu kira-kira kayak gambar diatas (jujur punya dosen saya jauh lebih bagus :D). Inti dari yang diomongin sama dosen saya adalah manusia hidup pasti punya kebutuhan. Nah biasanya yang dibutuhkan itu bertahap berubah sesuai dengan kondisi kesejahteraannya. Ya sebenernya agak menyederhanakan masalah sih, tapi ada point-point bagus yang pengen saya omongin disini.

Awalnya, yang paling penting buat seseorang adalah kenyang. Maksudnya selama dia lapar, agak tidak peduli dengan hal lain, apapun dilakukan supaya bisa kenyang. Nah kalo sudah kenyang, biasanya kebutuhan manusia jadi berubah sedikit, yaitu sudah sedikit nuntut kualitas, jadi supaya hidupnya jadi nyaman. Nah kalo sudah kenyang dan sudah nyaman, biasanya manusia mengejar prestasi untuk nunjukin siapa dirinya diantara keluarga dan orang-orang sekitarnya. Dan terakhir kalo dia sudah kenyang, sudah nyaman, banyak prestasi, biasanya manusia berusaha untuk mengaktualisasikan dirinya dengan mulai memikirkan kesejahteraan di lingkungan yang lebih besar.

Ya analoginya gini, kalo baru lulus sekolah, biasanya kita cuma konsen sama nyari kerja yang gajinya gede. Kalo ngerasa gaji udah cukup, mulai deh punya rumah, berkeluarga dan punya anak supaya hidupnya lebih berkualitas. Kalo udah enak biasanya nyari prestasi yang diri yang lebih tinggi, contohnya buka usaha sendiri. Nah kalo prestasi di usahanya udah bagus banget, mulai deh turun untuk memajukan masyarakat, misalnya ikutan politik supaya bisa majuin bangsanya. :D

Nah hubungannya apa dengan milih orang untuk suatu posisi tertentu dalam manajemen ? Ya maksudnya gini, sebenernya tahap evolusi kebutuhan seseorang mudah kita kenali kalo kita mo ngobrol dikit sama orang itu. Untuk orang yang di tahap paling bawah, jangan dipaksain untuk posisi jadi atasan, soalnya yang dipikirin masih diri sendiri, diri sendiri aja masih lapar. Nah untuk orang yang ditahap 2, udah bisa dijadiin atasan, tapi biasanya untuk bawahan yang jumlahnya sedikit dan gak jauh beda dengan latar belakang dia. Hal ini dikarena dia terbiasa untuk ngelindungin keluarga dan orang-orang deketnya.

Untuk yang di tahap 3, mungkin ini tipe manajer sejati. Dia bisa dijadiin atasan untuk orang-orang yang latar belakangnya beda sama dia, tapi kemungkinan berhasilnya besar, soalnya orang-orang ini lebih haus kepuasan untuk mencapai prestasi tertentu. Nah untuk orang yang ditahap keempat mungkin ini cocok jadi walikota, gubernur ato presiden kali ya. (sambil lirik-lirik Aa Nata :D)

Gitu sih garis besarnya. Tapi jangan nganggep ini jadi kebenaran umum ya, soalnya banyak anggota dewan yang masih di tahap satu tapi dah berlaku seperti tahap ke 4 :D :D :D . (Ups… ini nanti diungkit sama UU ITE a.k.a UU Bloger gak ya ?)

7 comments

[ IDE ] Paralax : Parallel Computing Over Ajax

Paralax, parallel computing over ajax

Sebenernya ide ini dah lama, mungkin 2 ato 3 tahun lalu dah kepikiran. Sempet jadi kandidat tesis saya tapi abis itu dilupain gara-gara asik maen workflow :D. Trus daripada sia-sia, saya publish disini, siapa tau ada yang mo implement ato mo ngembangin lebih lanjut.

Ide awal gini, kan sekarang jumlah komputer yang terhubung ke internet dah banyak banget, buktinya IPV4 sampe habis. Nah kebanyakan, komputer yang terhubung ke internet itu keseringan idle, terutama komputer client yang cuma dipake untuk browsing, chatting ato nyari gambar dan video ****** (edited -red). Nah komputer-komputer client yang idle itu, walaupun disebt client, tapi rata-rata punya prosessor yang keren-keren, apalagi sekarang jamannya core duo ato lebih. Kan sayang banget daya komputasi yang tersedia berlimpah itu terbuang percuma.

Nah ide dari Paralax ini adalah gimana caranya orang-orang yang punya resource terbuang sia-sia tadi bisa nyumbangin resource komputasinya untuk kegiatan yang lebih berguna. Jadi diminta untuk ngejalanin program yang berguna, tapi gak terlalu menganggu kegiatan dia. Pasti dah pada mikir “Bukannya udah ada parallel computing dari dulu ?“. He..he..he.. emang sih udah ada, bahkan kayaknya udah mature banget. Tapi saya mo nekanin karakteristik dari pengguna-pengguna tadi yaitu :

1. Koneknya gak dedicated
Maksudnya kadang konek, kadang enggak. Ya tergantung maunya di user aja. Jadi sistem paralax ini harus bersikap pesimis, maksudnya gak berharap banget komputer client bakal konek terus. Trus juga harus clientnya yang minta duluan (ini programnya aja, bukan usernya ngelakuin manual), soalnya server kan gak tau kapan client mo online ato enggak.

2. Susah disuruh nginstall program

Maunya gak usah download-download langsung jalan aja. Jadi model paralel komputing lama yang mengharuskan user untuk download program host program paralel susah diimplementasiin sekarang.

3. Susah disuruh update program
Disuruh install aja susah, apalagi disuruh update program kalo misalnya ada perubahan perhitungan/algoritma. Makanya model paralel computing baru perlu diciptain.

Trus gimana cara kerjanya ? Langkah-langkahnya seperti ini :1. Programmer ngebuat 3 bagian program

Pertama program inisialisasi, yaitu program yang menggenerate job kecil-kecil yang nanti dikerjain sama client.
Kedua adalah program worker yang nanti didownload dan dijalankan sama client
Ketiga adalah program handler yang menangani event, seperti job selesai ato job gagal (timeout)
2. Programmer install program di Paralax server dan menjalankan program inisialisasi, maka job akan dicreate dan ditaro di stack job
3. User membuka alamat server Paralax menggunakan browser, misalnya ke http://paralax.org/chain_reaction.php
4. Page yang dibuka user mengandung script untuk mendownload program paralel computing trus juga minta job yang bisa dikerjain sama dia.5. Browser client jalanin script job dia, dan kalo udah selesai ngelapor ke Paralax servernya lewat ajax6. Paralax server trus manggil program event handler ngasih tau kalo ada job yang selesai7. Client trus bisa meminta job yang lain

Jadi intinya nanti user yang mo nyumbang resource komputasinya tinggal ngebuka web browser dan menuju ke alamat tertentu. Bisa juga scriptnya diembed ke page lain dengan menggunakan iframe. Dengan berjalan di web browser, kan user gak perlu install apapun, kan hampir semua OS ada browsernya. Lagian dengan teknik Ajax, bisa dibuat kalo misal ada update algoritma di modul worker, bisa update otomatis tanpa campur tangan user.

Tapi yang jadi masalah mungkin javascript kan lambat, ya emang sih, tapi namanya juga nyumbang :D (walau yang ini keren banget, nyumbang resource komputasi). Trus javascript kan ada timeout eksekusi script ? Tenang…. ini bisa diakalin dengan memotong script kalo udah beberapa waktu untuk interval sesaat dan dipanggil lagi pake settimeout. Tapi yang saya suka dari web browser kan kerjanya kayak sandbox, jadi dari segi keamanan gak masalah, gak kayak program paralel komputing lain yang harus diinstal, masalah keamanan pasti jadi perhatian banget.
Mungkin yang perlu dipikirin gimana cara mrogram yang enak, misal pake bahasa yang biasa aja, trus ada kompiler yang bisa ngebuat kode yang siap dijalanin di server (php/jsp/ato yang lain) dan di client (java script)

Aplikasi yang kepikiran sama saya :

1. Simulasi reaksi kimia dan obat
2. Simulasi cuaca

3. Ngecrack kode keamanan

4. Pemetaan genetik

5. Ngegambar film 3D

Ato apa lagi deh yang perlu komputasi amat banyak tapi kalo dari segi waktu emang gak harus cepet-cepet banget. Sebenernya semua sisi udah kepikiran sama saya, tapi emang dari segi waktu saya gak punya. Tapi kalo ada yang mo ngembangin dipersilakkan :D :D :D

5 comments

Ribetnya System Integration

Baru beberapa menit lalu saya ngobrol-ngobrol dengan teman saya tentang ribetnya system integration diperusahaan dia. Memang sih perusahaan tempat dia bekerja berurusan dengan data yang disharing beberapa pihak (ngambil dari beberapa tempat dan memberi ke beberapa tempat). Kebayang gak sih, disaat perusahaan-perusahaan lain di indonesia baru ribut-ributin masalah mo milih desktopbased/web based ato windows/linux, perusahaan dia dah ngurusin gimana gabungin beberapa sistem yang bener-bener beda (karena emang yang bangun beda-beda) trus ditambah usia masing-masing sistem berbeda-beda banget ada sistem baru yang dilengkapin fitur canggih kaya web service/corba/EJB, tapi gak sedikit sistem yang lahir waktu jaman-jamannya cobol/fortran :D :D :D

Saya excited banget untuk ngobrolinnya secara emang dah lama saya tertarik dengan system integration. Mungkin awalnya sewaktu saya bekerja di vendor salah satu bank swasta dan bertugas untuk membangun sistem yang bekerja dengan berbagai system core banking di bank itu yang kebanyakan masih jalan di IBM AS400 dan komputer-komputer server/mainframe lain yang saya gak pernah lihat wujudnya tapi sering saya akses lewat layar warna ijo :D.

System integration mungkin gak bisa dihindari oleh kita. Saat ini banyak perusahaan sudah punya puluhan hingga ratusan aplikasi yang perlu untuk saling bekerja sama agar makin efektif. Apalagi saat ini di dunia IT sepertinya ada semacam kesepakatan bahwa perbedaan platform mungkin sudah bukan hal yang perlu diperdebatkan lagi. Sekarang semua orang bebas untuk membangun aplikasi di platform/bahasa/framework manapun karena sulit untuk menentukan yang mana yang lebih unggul daripada yang lain. Tapi permasalahnnya muncul kalau aplikasi-aplikasi tadi harus diintegrasikan, baik diintegrasikan antar aplikasi internal perusahaan bahkan dengan aplikasi dengan pihak luar. Ada perusahaan yang mengambil keputusan dengan menstandarisasikan bagaimana aplikasi dibangun (mulai dari bahasa, framework, platform, database sampe style pemrograman), tapi jujur bagi saya sih langkah itu seperti minum racun untuk ngilangin sakit sekarang, tapi ngebuat mati di kemudian hari. Gimana ya, tehnik pembangunan perangkat lunak kan berkembang dengan cepat juga. Kalo distandarin, mungkin setengah/satu tahun kemudian muncul tehnik baru yang lebih efektif dan efisien dan ngebuat yang distandarin jadi gak menarik lagi. Bahkan ada perusahaan yang demi keidealannya menjaga standar akhirnya kesulitan untuk mencari programmer yang bisa menangani standar yang udah mulai ditinggalin itu.

Trus bagaimana dong untuk menghadapi integrasi antar aplikasi diperusahaan yang jumlahnya puluhan (bahkan ratusan sampe ribuan) ? Sayang gak ada cara mudah untuk menjawab tantangan tadi. Cara standarisasi (yang diatas sudah saya tentang) mungkin bisa menjawab sedikit masalah di integrasi sistem, ya paling enggak disisi cara komunikasi, tapi masih belum menjawab banyak tantangan lain.

Kalo dari saya, mungkin yang paling utama adalah kemauan dari sisi manajemen. Yup, sekali lagi kemauan manajeman. Kenapa saya bilang gitu ? Karena sesuai dengan pengalaman saya, kalo kemauan manajemennya kuat, kalo perlu sampe terobsesi, semua tantangan integrasi sistem tuh gak ada apa-apanya. Karena biasanya rintangan terbesar tuh adalah kemalasan para staf untuk melakukan integrasi itu. Ya biasa lah, staf kan maunya kerja dengan irama yang itu-itu aja, kalo udah bisa jalan (walau ada anomali dikit) gak pa pa lah, dari pada harus berubah dan nambah kerjaan (saat itu). Makanya orang manajemennya gak boleh berpikiran yang sama. Harus punya visi yang jelas tentang keuntungan yang bakal diraih dari mengintegrasikan sistem tadi dan bagaimana merencanakan pengintegrasian tersebut.

Yang kedua adalah kebijakan manajemen untuk mendorong semua aplikasi baru didesain untuk mengakomodasi akan diintegrasi di suatu saat nanti. Mungkin sekarang enggak, tapi harus mikir nanti bakalan diintegrasiin dengan yang lain. Kebijakan ini mirip dengan standarisasi, tapi cuma dilevel desain, jadi gak terlalu mengekang developernya tapi ngasih dorongan kedeveloper agar jangan berpikiran sempit. Hal ini bisa ngurangin kepusingan dikemudian hari.

Dan terakhir yang paling penting adalah milih staf yang akan melakukan integrasi adalah staf yang tingkat komprominya tinggi. Kenapa saya bilang gini ? Karena kita semua tau lah gimana sih gayanya programmer, sebagian besar nganggep dirinya sebagai artis besar yang egonya tinggi banget. Padalah disaat integrasi programmer tadi harus menghadapi desain/tehnik dari berbagai developer yang berbeda-beda yang mungkin berlawanan dengan keidealan keartisannya dia. Makanya staff yang kompromistis, yang milih cari solusi daripada nyari konfrontasi diperluin banget (i’ve been thereĀ  and see how bad things happen :D :D :D).

He..he..he.. sorry deh kalo disini cuma cuap-cuap dikit tentang system integration, kalo mo diskusi panjang tentang system integration sampe turun ke tehnik bisa email ke saya ke denny[at]klorofil.org.

3 comments