Denny Depok IT Blog

Ngomongin Klorofil Project dan dunia IT, dari perkembangan, gosip sampe teori konspirasinya :D

Archive for the 'manajemen' Category

Puncak Emas Software Perusahaan : Integrated Enterprise Collaboration System

Sejak awal perkembangan komputer, kalangan bisnis adalah kalangan yang paling banyak mengeksploitasi teknologi informasi untuk membantu operasionalnya. Sesuai dengan perkembangan teknologi dari masa ke masa, muncul perangkat lunak-perangkat lunak yang yang dapat membantu operasi bisnis yang mampu buat pada masa tersebut. Dimulai dari aplikasi bisnis sederhana seperti text processor (dari WordStart, WordPerfect, MS. Word), spreadsheet (Lotus 123, Quattro, Excel), database (DBase, Paradox, Oracle), aplikasi spesial seperti ERP-CRM sampai sistem proses bisnis muktahir BPMS (Business Process Management System).

Jika melihat evolusi software perusahaan diatas, terlihat bahwa software perusahaan berkembang dengan semakin memasuki semua sendi-sendi bisnis untuk menuju suatu sistem informasi terintegrasi yang menjadi jantung dari pelaksanaan bisnis. Menurut pengamatan saya, dengan tersedianya infrastruktur IT yang sudah sangat memadai diperusahaan saat ini (mulai dari komputer disetiap meja staff yang terhubung ke jaringan, database besar yang mampu mengatur data jutaan/milyaran record, server-server yang mumpuni untuk proses komputasi perhitungan kompleks secara realtime), sudah saatnya sistem informasi perusahaan terintegrasi tersebut diimplementasikan saat ini. Perangkat lunak yang merupakan puncak atau holy grail dari software perusahaan yang saya sebut Integrated Enterprise Collaboration System (IECS).

Jadi bagaimanakah sistem informasi bisnis sempurna ini akan berbentuk ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu melihat struktur operasional organisasi bisnis saat ini yang bisa dilihat pada gambar dibawah ini (klik unutk gambar yang lebih besar).


Terlihat bahwa ada 4 lapisan penting dari organisasi. Lapisan pertama adalah struktur organisasi, yaitu bagaimana para staff dibagi berdasarkan bagian untuk mendapatkan tugas dan wewenang yang sesuai. Lapisan kedua adalah data, yaitu semua data yang berhubungan dengan operasi perusahaan, hal yang dialirkan diantara struktur organisasi selama operasional perusahaan sebagai darah organisasi. Lapisan ketiga adalah proses bisnis, yaitu lapisan yang menjelaskan bagaimana urut-urutan tugas diantara bagian untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu. Lapisan keempat adalah aplikasi-aplikasi khusus yang dipergunakan untuk mengolah data tertentu.

Sistem informasi bisnis yang sempurna adalah sistem informasi bisnis yang mencapture semua lapisan-lapisan diatas. Mampu mengabstraksikan semua lapisan diatas secara lengkap dan mampu mengintegrasikan semua lapisan diatas menjadi satu view komprehensif terhadap perusahaan.

Bagai mana bentuk tepatnya… hmm mungkin bagi para staf, tampilan yang akan dilihat mirip dengan aplikasi yang dipakai mereka saat ini. Bedanya, tampilan yang mereka lihat benar-benar layar yang ditujukan untuk mengerjakan suatu tugas tertentu sesuai dengan state suatu pekerjaan, sebab aplikasi-aplikasi IECS adalah aplikasi proses bisnis dengan banyak state dan banyak user. Jadi layar kerja yang mereka hadapi adalah layar yang benar-benar tepat, tidak ada layar umum yang bisa dilihat semua orang seperti aplikasi perusahaan saat ini.

Yang benar-benar berbeda adalah layar yang dilihat oleh developer dan administrator. Layar yang akan mereka lihat akan menampilkan semua lapisan perusahaan dalam satu aplikasi development/setting. Tidak seperti yang ada saat ini semua lapisan punya aplikasi masing-masing dan parahnya sering tiap lapisan dihandle oleh orang yang berbeda sehingga sulit membuat aplikasi perusahaan yang benar-benar tepat dan komprehensif.

Arsitektur IECS akan terlihat seperti dibawah ini (klik untuk gambar yang lebih besar).

Gimana, tertarik dengan IECS ? Kalo tertarik, mungkin perlu melihat yang saya dan tim saltanera kerjakan selama 1.5 tahun terakhir :D (klik untuk lebih besar)

4 comments

IT Dead Match : Project Manager VS Development Manager

Salah satu ciri khas vendor software indonesia adalah hampir semua merangkak dari perusahaan kecil berisi 2 sampai 4 orang kemudian berkembang menjadi perusahaan yang memiliki staff sampai puluhan sampai ratusan (belum pernah denger vendor software indonesia sampe ribuan pekerjanya). Jarang sekali ada vendor yang sudah di set-up dari awal untuk menjadi perusahaan menengah/besar, walaupun ada biasanya hanya menjadi agen software dari luar negeri dan hidup dari proyek deployment.

Kondisi diatas biasanya membuat struktur organisasi vendor IT berubah-ubah sesuai perjalanan waktu. Pada waktu awal (waktu 2-4 orang), semua staff pada level C, maksudnya CEO, CTO, C project manager, C analis, C programmer dan C tester (bacanya si project manager, si analis, si programmer dan si tester, soalnya yang ngerjain orangnya itu-itu aja :D )

Setelah perusahaan maju, biasanya staff akan ditambah, mulai dari programmer, marketing, administrasi, dokumenter dan yang lain-lain. Tetapi karena projeknya belum banyak, resource yang tersedia biasanya disharing diantara beberapa proyek. Maksudnya satu programmer bisa ngerjain 2 sampe 3 proyek sekaligus. Apalagi analis, marketer , tester dan administrasi, biasanya sudah default disharing ke banyak proyek. Struktur organisasi ini biasa disebut struktur matriks, dimana satu orang bisa punya beberapa bos, bos dari departemen dan bos dari proyek. Tapi karena masih relatif sedikit proyeknya, bos departemen biasanya yang jadi project manager, jadi gak terlalu masalah. Dan biasanya yang jadi project manager adalah developer paling senior.

Masalahnya muncul kalo proyeknya makin banyak dan proyek gak bisa lagi dihandle sama development manager, sehingga akhirnya di-hire-lah orang-orang yang khusus jadi project manager. Masalahnya adalah pada saat transisi kepemimpinan dari dari development manager yang lebih dekat ke programmer (teknis) menjadi project manager sesungguhnya yang lebih deket ke manajemen. Pekerja yang dulu bisa kong-kalikong dengan project manager (karena project manager ngerti permasalahan yang dihadapi developer) gak bisa lagi santai-santai, karena project manager sesungguhnya lebih mentingin pencapaian tujuan seperti schedule ontime, sesuai budget dan kualitas yang baik.

Masalah yang timbul biasanya ada kasak-kusuk antar developer tentang project manager yang kelewat tegas. Sebenernya enggak kelewat tegas sih, emang itu tugasnya, tapi developer yang emang biasa santai (sedikit malas lebih tepatnya) jadi harus ngikutin aturan baru (yang seharusnya dilakukan dari dulu). Kalau sudah gitu biasanya ada sedikit pembangkangan masal dari developer ke project manager (yang sesungguhnya). Masalahnya lebih besar lagi kalau development manager (DM) (yang dulunya senior developer dan project manager awal) terprovokasi dengan kasak-kusuk tadi dan merasa kekuasaan dia tergerus oleh kedatangan project manager (PM). Perlu diingat, developer (terutama development manager) sudah bergabung ke perusahaan jauh lebih dahulu dari project manager yang baru ini, yang tentu aja kedekatan diantara mereka jauh lebih kuat daripada ke project manager baru. Apalagi PM biasanya kemampuan teknisnya agak kurang (tapi kemampuan manajemennya lebih tinggi) daripada DM, jadi sering diragukan keputusannya.

Pertarungan akan berlanjut apabila tekanan penyelesaian proyek meningkat. PM yang berusaha menekan developer untuk mempercepat penyelesaian project akan berhadapan dengan DM (yang sudah ngerasa kekuasaannya tergerus) yang berusaha memprotek anak buahnya dengan alasan beban anak buahnya sudah overload. Masalah lebih besar lagi kalau DM menolak menambah programmer (kalau struktur organisasi matriks, penambahan staff adalah wewenang DM). Akhirnya ketegangan gak bisa dihindarkan, saling curiga antara PM dengan DM dan saling cari kesalahan akan mewarnai kegiatan sehari-hari. Apalagi kalo developernya memanfaatkan ketegangan ini untuk memperlambat pekerjaan (percaya deh, kalo atasan berantem, bawahan jadi bisa leha-leha memanfaatkan kekanak-kanakan atasan tadi :D ).

Akhirnya ??? Pekerjaan jadi banyak yang terbengkalai. Perintah dari PM akan dimentahkan DM. Perintah dari DM akan dimentahkan PM. Akhirnya developer bingung mo ngerjain yang mana, ya akhirnya leha-leha aja. Kalo ditanya salah satu atasan, persalahkan atasan yang lainnya :D. Kalau sudah tahap ini, proyek banyak yang terlambat atau gagal. Klien kecewa dan membatalkan proyek-proyek yang selanjutnya. Dah akhirnya, tinggal tunggu pembubaran perusahaan.

Inilah hal yang sering terjadi di vendor software. Bukan tutup karena gak ada kerjaan, tapi tutup karena kebanyakan kerjaan.

Solusinya ??? Perlu diingat oleh semua orang kalau PM harusnya berkuasa penuh terhadap proyek. Kenapa ? karena PM bisa melihat lebih luas terhadap keseluruhan pekerjaan dibandingkan orang lain. Walaupun DM dengan developernya memiliki kemampuan teknis yang mumpuni, tapi gak cukup luas untuk melihat kalau proyek bukan sekadar mrogram, tapi ada perencanaan jadwal, perencanaan perubahan, penjaminan kualitas, hubungan dengan klien dan aspek legal yang cuma bisa dilihat dengan jelas oleh orang sekaliber PM.

Struktur Organisasi Pohon (Disederhanakan)

Perusahaan yang merasa sudah besar sudah saatnya meninggalkan struktur matriks. Harusnya sudah berpindah ke struktur pohon seperti yang terlihat pada gambar diatas. Memang permasalahan DM jadi tidak ada. Perlu diingat DM biasanya developer yang paling senior yang biasanya sangat berjasa ke perusahaan bahkan mungkin ikut membangun perusahaan. Ya mau gak mau DM harus berubah fungsi, misal jadi manager untuk PM, jadi gak berhubungan langsung ke teknis. Atau kalau memang DM mau terus di level teknis, perusahaan bisa membuka departemen baru seperti departemen riset untuk membangun komponen software yang gak terbatas oleh jadwal waktu yang kaku.

Tapi tetep diinget, bagaimanapun struktur organisasinya, yang paling berpengaruh adalah tingkat profesionalisme setiap staff. Karena hal ini yang biasanya jadi hambatan kita sebagai bangsa indonesia yang biasanya mengutamakan hubungan baik antar personal sampai menghalalkan anomali-anomali yang ada.

11 comments

Stop Dukung Mahasiswa Rusuh !!!

Definisi mahasiswa diambil dari suku kata pembentuknya. Maha dan Siswa, atau pelajar yang paling tinggi levelnya. Sebagai seorang pelajar tertinggi, tentu mahasiswa sudah terpelajar, sebab mereka tinggal menyempurnakan pembelajarannya hingga menjadi manusia terpelajar yang paripurna.

Apakah yang diharapkan dari seorang mahasiswa ? Memang harapan ini terbagi pada stratanya, yaitu untuk strata S1, seorang mahasiswa diharapkan mampu memahami suatu konsep, dapat memetakan permasalahan dan memilih solusi terbaik untuk permasalahan tersebut sesuai pemahaman mendalam konsep yang telah dipelajari. Untuk strata S2, mahasiswa diharapkan mampu merumuskan sesuatu yang berguna atau bernilai lebih untuk bidangnya. Sedangkan S3 diharapkan mampu menyumbang ilmu baru bagi bidangnya.

Dari semua strata ada hal yang harus terus secara konsisten diperlihatkan oleh mahasiswa. Yaitu dalam menghadapi permasalahan, seorang mahasiswa harus melakukan analisa terhadap masalah itu. Mencari bahan pendukung untuk lebih memahami permasalahan tersebut. Kemudian memunculkan alternatif solusi dan memilih satu solusi dengan pertimbangan yang matang. Dan pada akhirnya harus mampu mempresentasikan solusi yang dipilih ke orang lain untuk mempertanggung jawabkan pemilihan solusi tersbut.

Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah kenaikan harga BBM yang menekan kehidupan masyarakat banyak. Apakah permasalahan tersebut sudah di analisa ? Apakah data-data pendukung untuk analisa permasalah sudah dikumpulkan dan dimengerti. Apakah sudah pernah muncul berbagai alternatif solusi ? Apakah sudah dipilih solusi yang akan diambil ? Apakah solusi tersebut dapat dipertanggung jawabkan ?

Kalau solusi yang ditawarkan adalah membakar ban di tengah jalan, memblokir jalan, melempari polisi dengan batu dan bom molotov, merusak pagar pembatas tol, membakar mobil plat merah, dan berdemo di rumah sakit untuk memaksa dokter berbicara (walau sudah tau untuk membunyikan klakson pun diharamkan), saya tidak yakin itu solusi yang keluar dari seorang bahkan sekumpulan mahasiswa dari lintas universitas.

Tapi kalau memang hanya itu solusi yang ditawarkan, mungkin kita perlu meredefinisikan (atau mereduksi ?) arti mahasiswa….

Stop Dukung Mahasiswa Rusuh !!!

1 comment

Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Dengan Kontrol Diri

Setelah melihat demo supir angkot, buruh, mahasiswa dan debat para ekonom, dapat diambil kesimpulan bahwa hubungan antara tingkat pendidikan dan kontrol diri adalah sebagai berikut :

kontroldiri.png

Sebelum komentar inget ya ini cuma sarkasme lelucon yang gak lucu…. :D

Nb. Saya buat chart diatas pake Purefect Desktop loh, nanti saya tulis tutorial untuk pemakaian chart kayak gini…

8 comments

Evolusi Kebutuhan Manusia (Buat Yang Udah Masuk Ke Manajemen :D)

evolusi1.PNG(warning awal, penulis bukan ahli manajemen, semua ini hasil quote penulis dari orang-orang yang diajak ngobrol, baca buku, artikel dan nonton film — tapi bukan dari nonton reality show 6 jam yang isinya bencong melulu itu loh :P )

Kemaren ngobrol-ngobrol sama temen soal gimana sih milih orang yang tepat untuk menduduki suatu posisi yang punya bawahan (ups, ternyata banyak temen dah masuk ke level manajemen, saya ngapain aja ya ?). Emang untuk kita yang latar belakangnya teknik pas masuk ke level manajemen jadi agak kikuk, soalnya kita cuma dibekalin sedikit ilmu manajemen. Maunya sih terus jadi teknisi, tapi kalo diindonesia, jenjang karir kalo naek jabatan pasti jatohnya ke manajemen, gak ada istilah senior technical staff apalagi architect.

Nah selagi ngobrol tadi saya teringet sama pelajaran dosen manajemen proyek saya yang pernah ngomongin masalah evolusi kebutuhan manusia. Yang digambarin sama dosen saya dulu kira-kira kayak gambar diatas (jujur punya dosen saya jauh lebih bagus :D). Inti dari yang diomongin sama dosen saya adalah manusia hidup pasti punya kebutuhan. Nah biasanya yang dibutuhkan itu bertahap berubah sesuai dengan kondisi kesejahteraannya. Ya sebenernya agak menyederhanakan masalah sih, tapi ada point-point bagus yang pengen saya omongin disini.

Awalnya, yang paling penting buat seseorang adalah kenyang. Maksudnya selama dia lapar, agak tidak peduli dengan hal lain, apapun dilakukan supaya bisa kenyang. Nah kalo sudah kenyang, biasanya kebutuhan manusia jadi berubah sedikit, yaitu sudah sedikit nuntut kualitas, jadi supaya hidupnya jadi nyaman. Nah kalo sudah kenyang dan sudah nyaman, biasanya manusia mengejar prestasi untuk nunjukin siapa dirinya diantara keluarga dan orang-orang sekitarnya. Dan terakhir kalo dia sudah kenyang, sudah nyaman, banyak prestasi, biasanya manusia berusaha untuk mengaktualisasikan dirinya dengan mulai memikirkan kesejahteraan di lingkungan yang lebih besar.

Ya analoginya gini, kalo baru lulus sekolah, biasanya kita cuma konsen sama nyari kerja yang gajinya gede. Kalo ngerasa gaji udah cukup, mulai deh punya rumah, berkeluarga dan punya anak supaya hidupnya lebih berkualitas. Kalo udah enak biasanya nyari prestasi yang diri yang lebih tinggi, contohnya buka usaha sendiri. Nah kalo prestasi di usahanya udah bagus banget, mulai deh turun untuk memajukan masyarakat, misalnya ikutan politik supaya bisa majuin bangsanya. :D

Nah hubungannya apa dengan milih orang untuk suatu posisi tertentu dalam manajemen ? Ya maksudnya gini, sebenernya tahap evolusi kebutuhan seseorang mudah kita kenali kalo kita mo ngobrol dikit sama orang itu. Untuk orang yang di tahap paling bawah, jangan dipaksain untuk posisi jadi atasan, soalnya yang dipikirin masih diri sendiri, diri sendiri aja masih lapar. Nah untuk orang yang ditahap 2, udah bisa dijadiin atasan, tapi biasanya untuk bawahan yang jumlahnya sedikit dan gak jauh beda dengan latar belakang dia. Hal ini dikarena dia terbiasa untuk ngelindungin keluarga dan orang-orang deketnya.

Untuk yang di tahap 3, mungkin ini tipe manajer sejati. Dia bisa dijadiin atasan untuk orang-orang yang latar belakangnya beda sama dia, tapi kemungkinan berhasilnya besar, soalnya orang-orang ini lebih haus kepuasan untuk mencapai prestasi tertentu. Nah untuk orang yang ditahap keempat mungkin ini cocok jadi walikota, gubernur ato presiden kali ya. (sambil lirik-lirik Aa Nata :D)

Gitu sih garis besarnya. Tapi jangan nganggep ini jadi kebenaran umum ya, soalnya banyak anggota dewan yang masih di tahap satu tapi dah berlaku seperti tahap ke 4 :D :D :D . (Ups… ini nanti diungkit sama UU ITE a.k.a UU Bloger gak ya ?)

7 comments